Kupang, inihari.co- Riuh sorak penonton, teriakan para orang tua, dan semangat anak-anak di lapangan menciptakan suasana luar biasa sore itu di Stadion Mini Agustinus David Riwu Kore, Nunbaun Sabu. Rumput yang masih lembap usai hujan tak menyurutkan semangat para pemain cilik. Inilah laga pembuka Turnamen Sepak Bola U-10 & U-12 SAGA CUP I Tahun 2025.
Turnamen dibuka secara resmi oleh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, melalui Camat Alak, Yulianus Willem Pally, SH, dan ditandai dengan tendangan kehormatan oleh Yafet Yeferson Horo, penggagas sekaligus donatur utama turnamen.
Tepuk tangan bergemuruh mengiringi bola pertama yang meluncur di tengah lapangan, pertanda bahwa pesta sepak bola anak-anak Kota Kupang resmi dimulai. Pertandingan diawali dengan menghadapkan Tunas Muda B melawan Putra Kenari B.
Peluit pertama berbunyi. Wasit Ais memimpin pertandingan dengan tegas, sementara kedua tim langsung memperlihatkan tekad besar mereka.
Dalam tempo cepat, Tunas Muda tampil agresif. Menit ke-4, penonton bersorak ketika Ibra, pemain bernomor punggung 6, berhasil menembus pertahanan Putra Kenari dan melepaskan tembakan keras yang menghujam gawang. Gol pertama untuk Tunas Muda!
Sorakan penonton pecah di udara. Anak-anak Tunas berlari ke tengah lapangan, berpelukan dalam euforia kecil yang tulus dan polos.
Namun Putra Kenari tak tinggal diam. Mereka segera bangkit, mencoba membalas lewat serangan-serangan cepat dari sayap kanan. Beberapa kali peluang emas muncul, termasuk tendangan bebas akibat pelanggaran “handsball” di depan kotak penalti. Sayang, eksekusi mereka masih terlalu mudah ditepis oleh kiper Tunas.
Lapangan yang basah membuat bola sulit dikontrol. Beberapa kali pemain terpeleset, namun semangat tak padam. Menit ke-7, pelatih Kenari melakukan pergantian pemain, nomor 13 diganti 14, untuk menambah tenaga baru di lini depan.
Tekanan demi tekanan terus datang dari Kenari, tetapi hingga peluit istirahat berbunyi, skor bertahan 1–0 untuk Tunas Muda.
Usai turun minum, Putra Kenari tampil dengan wajah berbeda. Hanya semenit setelah babak kedua dimulai, nomor punggung 10, Abid Rema, mencetak gol penyama kedudukan lewat kemelut di depan gawang. Bola hasil lemparan ke dalam disambar cepat, dan gawang Tunas bergetar!
Sorak “Kenaaarii! Kenaaarii!” menggema di sekitar lapangan.
Permainan makin cepat. Pergantian pemain terjadi di kedua kubu. Dari Kenari, nomor 2 keluar digantikan 16, sementara Tunas mengganti nomor 19 dengan 88. Lapangan makin licin, bola bergulir liar, dan setiap tekel memicu teriakan penonton.
Menit ke-7, Habib, pemain bernomor punggung 7 dari Putra Kenari, tampil memukau. Ia menggiring bola dari tengah lapangan, melewati dua pemain lawan, dan menembak keras ke arah gawang. Kiper sempat usaha menepis, tapi bola tetap meluncur masuk! Gol kedua untuk Kenari!
Baru tiga menit berselang, Habib kembali menunjukkan magisnya. Lewat umpan silang dari sisi kanan, ia berdiri bebas di depan gawang dan tanpa ragu menyontek bola ke pojok kiri bawah. Gol kedua Habib, gol ketiga Kenari!
Suasana stadion mini pun meledak. Anak-anak berlari ke pinggir lapangan, pelatih melompat kegirangan, dan para orang tua tak henti bertepuk tangan. Di sisi lapangan, Yafet Yeferson Horo, yang turut menyaksikan pertandingan dari awal, tampak tersenyum puas.
Usai laga dramatis itu, Yafet menyampaikan kebanggaannya atas semangat dan sportivitas para pemain muda.
“Turnamen ini bukan hanya soal menang atau kalah, tapi tentang pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kerja sama tim sejak usia dini,” ujarnya.
Ia menegaskan, kegiatan seperti SAGA CUP I menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan, mempererat kebersamaan, menyalurkan bakat anak-anak, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui UMKM di sekitar lokasi pertandingan.
Hingga peluit panjang dibunyikan, skor bertahan 3–1 untuk kemenangan Putra Kenari B. Tunas Muda yang sempat unggul lebih dulu harus mengakui ketangguhan lawannya. Meski begitu, kedua tim berpelukan di tengah lapangan, menutup pertandingan dengan sportivitas yang hangat.
Langit sore di atas Nunbaun Sabu tampak mulai merona oranye. Anak-anak meninggalkan lapangan dengan senyum lebar, sementara sorak penonton masih bergema. Turnamen baru saja dimulai, dan Kota Kupang telah menyaksikan lahirnya bakat-bakat kecil yang menjanjikan. (Yantho Sulabessy Gromang)




Discussion about this post