Kupang, inihari.co- Di tengah cahaya senja yang menari di atas lahan PPI Fatubesi, ribuan pemuda berkumpul dengan wajah berseri, menatap langit seolah mencari inspirasi untuk masa depan. Ibadah Penyegaran Iman Pemuda GMIT Ebenhaezer Oeba bukan sekadar ritual, melainkan panggung hidup yang memadukan iman, kasih, dan tanggung jawab, di mana generasi muda diajak menjadi mercusuar bagi keluarga dan masyarakat.
Kehadiran Wakil Wali Kota Kupang menghadirkan aura kepedulian dan komitmen nyata. Dengan setiap kata yang diucapkan, beliau menekankan bahwa pemuda adalah tonggak bagi keharmonisan keluarga dan masyarakat. Pesannya mengalir lembut namun tegas: setia, bertanggung jawab, dan menjadi teladan dalam kasih dan iman.
“Hidup berkeluarga bukan hanya tinggal di bawah satu atap. Kesetiaan, kepercayaan, dan kasih adalah fondasinya,” ujar Wakil Wali Kota, menambahkan bahwa pemuda harus menjadi mitra bagi orang tua, menguatkan keluarga, dan menjaga keharmonisan dalam setiap interaksi.
Ibadah ini juga menjadi momen refleksi terhadap tantangan era digital,dari media sosial yang sering menyebarkan kebencian, hingga risiko pornografi dan kekerasan. “Jejak digital itu abadi. Sebelum membagikan sesuatu, saringlah dengan hati penuh kasih,” pesan beliau, mengingatkan pemuda untuk menanam nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.
Sorot mata jemaat menyiratkan kesadaran yang tumbuh. Banyak pemuda yang tersenyum, namun Wakil Wali Kota mengingatkan bahwa di balik senyum itu, ada luka yang perlu diperhatikan. Gereja, katanya, adalah ruang pemulihan, tempat mereka merasa diterima dan aman.
Ketua Majelis Jemaat GMIT Ebenhaezer Oeba menegaskan bahwa ibadah ini adalah sarana untuk menyalakan terang di tengah dunia yang gelap. “Terangmu harus bercahaya di depan orang, agar perbuatanmu memuliakan Tuhan,” ujar Pdt. Yanse S. Tefa Billi, menekankan pentingnya mewujudkan firman dalam tindakan nyata.
Antusiasme pemuda terlihat jelas. Mereka berinteraksi, tertawa, dan belajar dari sesi ibadah yang penuh makna. “Acara ini memberi saya semangat baru. Saya merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga kasih dalam keluarga dan lingkungan sekitar,” ungkap Jonathan Lelo, peserta dari Rayon 6, sambil tersenyum penuh harap.
Wakil Wali Kota juga memaparkan berbagai program inovatif yang mendukung pemuda dan masyarakat, seperti Saboak Sunday Market dan Program INA KASIH. Program-program ini bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi wahana pemberdayaan yang menanamkan rasa tanggung jawab, kepedulian, dan kreativitas.
Lebih dari itu, ia menekankan bahwa setiap pemuda Kristen memiliki panggilan untuk melayani dan menjadi berkat. Kehadiran mereka di komunitas, gereja, dan kota bukan sekadar eksistensi, tetapi kontribusi nyata dalam membangun Kota Kupang sebagai Kota Kasih yang inklusif dan harmonis.
Pemandangan di lokasi ibadah begitu memikat: cahaya matahari sore menembus pepohonan, menyinari wajah-wajah penuh semangat, sementara suara nyanyian jemaat bergema lembut. Sensasi ini membuat setiap peserta merasakan kedekatan spiritual yang mendalam, seolah alam dan iman berpadu menjadi satu harmoni.
Kolaborasi antara pemerintah, panitia, jemaat, dan komunitas menjadi bukti nyata bahwa kasih dan kesetiaan bisa diwujudkan melalui aksi bersama. Seperti cahaya lilin yang membentuk terang di malam hari, setiap kontribusi kecil membangun atmosfir persaudaraan dan kepedulian yang hangat dan menyentuh hati.
Ketika ibadah berakhir, gema nyanyian dan tepuk tangan masih terasa hangat di udara. Para pemuda meninggalkan lahan dengan langkah percaya diri dan hati penuh harapan. Ibadah Penyegaran Iman Pemuda GMIT Ebenhaezer Oeba tahun 2025 berhasil menegaskan satu pesan abadi: generasi muda adalah cahaya Kota Kupang, penyebar kasih, penjaga kesetiaan, dan pelopor masa depan yang damai. (Yantho Sulabessy Gromang/Advertorial)




