Kilau Tradisi di Bawah Langit Kupang: Sagi So’a dan Larik Riung Menyatukan Generasi

Pentas Budaya Sagi So’a dan Larik Riung 2025
banner 468x60

Kupang, inihari.co- Di bawah langit sore Kupang yang memerah keemasan, alunan gamelan dan gemerincing tarian tradisional membentuk simfoni yang memikat mata dan hati. Pentas Budaya Sagi So’a dan Larik Riung 2025 tampil bukan sekadar pertunjukan, melainkan panggung hidup yang menyulam masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu ritme harmonis.

Taman Budaya Gerson Poyk dipenuhi oleh warga yang datang dengan mata berbinar dan senyum hangat. Kehadiran tokoh-tokoh masyarakat menegaskan, budaya tidak pernah menjadi ornamen kosong; ia adalah denyut nadi kota, pengikat komunitas, dan pendorong identitas kolektif.

Sambutan dari Wali Kota Kupang menyiratkan pesan mendalam: budaya adalah warisan yang dipinjamkan oleh anak-cucu kita. “Jika kita menjaga dengan sepenuh hati, kelak mereka akan menemukan kekayaan yang sama, bukan kehampaan,” katanya, menambahkan rasa urgensi dan kebanggaan pada setiap gerakan tari yang terlihat di panggung.

Momentum puncak terjadi saat Wali Kota ikut merasakan laga eksebisi Sagi So’a. Aksi ini bukan sekadar simbol; itu adalah ajakan nyata untuk seluruh masyarakat agar turut berperan menjaga dan merayakan tradisi. Sorak sorai penonton menyatu dalam riuh tepuk tangan yang membahana.

Wakil Bupati Ngada menegaskan, pentas ini lebih dari sekadar hiburan. Ia adalah ruang pertemuan, dialog budaya, dan penguatan persaudaraan diaspora Ngada. Setiap gerakan dan lagu adalah pesan tersurat tentang keberanian, harmoni, dan nilai kekerabatan yang tak lekang oleh zaman.

Antusiasme masyarakat tak terbendung. “Saya merasa kembali ke kampung halaman. Setiap tarian membuat hati saya hangat dan bangga menjadi bagian dari komunitas ini,” ujar Maria Lolo, seorang pengunjung dari Oebobo, dengan mata berbinar dan senyum bahagia.

Ketua Panitia, Anton Gili, mengungkapkan bahwa keberhasilan acara ini adalah karya kolaboratif antara Ikada, komunitas budaya, dan pemerintah. “Kami ingin menghadirkan budaya sebagai jembatan, menghubungkan generasi muda dengan akar mereka dan memperkuat persaudaraan,” jelasnya.

Tema “Dengan Semangat Kemerdekaan, Ayo Bangun NTT dalam Spirit Sagi dan Larik” terpancar di setiap tarian, kostum, dan musik. Keberanian, persatuan, dan harmoni bukan sekadar konsep, tetapi energi yang mengalir ke setiap sudut taman budaya, menyatu dengan riuh tepuk tangan penonton.

Pentas ini juga menjadi ruang edukasi budaya. Anak-anak muda belajar gerakan tarian, menyimak cerita di balik tradisi Sagi So’a, dan meresapi nilai-nilai leluhur. Dengan cara ini, generasi penerus tidak hanya menjadi penonton, tetapi pewaris pengetahuan dan tradisi yang autentik.

Konsep gotong royong modern terlihat jelas dalam kolaborasi panitia, sponsor, dan komunitas. Mereka membuktikan bahwa melestarikan budaya tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan melalui sinergi yang harmonis antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta.

Bagi warga Kupang, pentas budaya ini adalah cahaya. Lilin-lilin kecil yang dinyalakan di komunitas dan keluarga menciptakan atmosfer hangat yang tak hanya menerangi taman budaya, tetapi juga hati setiap peserta dan penonton. Tradisi bertemu modernitas, membentuk pengalaman estetis yang mendalam.

Saat malam menyelimuti Kota Kupang, gema musik dan sorak penonton tetap terasa. Sagi So’a dan Larik Riung 2025 bukan sekadar pesta seni, tetapi perayaan identitas dan kolaborasi. Panggung budaya ini menjadi mercusuar bagi generasi sekarang dan yang akan datang, menyalakan cahaya tradisi yang abadi di jantung kota. (Yantho Sulabessy Gromang/Advertorial)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *