Kupang, inihari.co- Di bawah cahaya lampu yang berpendar lembut, Jalan Airmata diselimuti aroma rempah, kue tradisional, dan gema shalawat yang mengalun merdu. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Al-Baitul Qadim bukan sekadar ritual tahunan, tetapi panggung hidup yang menautkan sejarah, budaya, dan spiritualitas dalam satu harmoni yang memikat indera.
Kehadiran Wali Kota Kupang menegaskan komitmen pemerintah terhadap pelestarian tradisi sekaligus pemberdayaan generasi muda. Dengan senyum hangat, beliau menyampaikan bahwa Airmata memiliki potensi besar, terutama dari para pemuda yang kreatif dan bersemangat, menjadikan tradisi ini hidup dan relevan di tengah modernitas.
“Kehadiran saya malam ini adalah simbol cinta dan perhatian pemerintah Kota Kupang kepada masyarakat Airmata,” tegas Wali Kota, menegaskan bahwa dukungan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk nyata melalui alokasi tambahan dana yang disiapkan untuk memastikan kelangsungan tradisi.
Perayaan Maulid di Airmata lebih dari seremoni; ia adalah laboratorium akhlak. Keikhlasan, kepedulian, kasih sayang, dan kejujuran menjadi nilai yang dibawa dalam setiap doa, setiap lantunan Maulid, dan setiap langkah arak-arakan Sripuan menuju masjid, menegaskan bahwa tradisi ini adalah warisan yang harus dijaga untuk anak cucu.
Sekretaris panitia, Fahmy Husein Syech Assegaf, memaparkan bahwa penggalangan dana melalui swadaya masyarakat, donatur, dan penjualan kuliner berhasil menghimpun lebih dari Rp53 juta. Angka ini menjadi bukti nyata keterlibatan warga dalam menjaga tradisi, sekaligus memperkuat ikatan sosial dan gotong royong.
Wali Kota juga menekankan bahwa keberagaman dan toleransi adalah kekuatan Kota Kupang. Masjid, gereja, pura, komunitas, LSM, dan pemerintah bergandengan tangan, membuktikan bahwa perbedaan dapat menjadi jembatan persaudaraan, bukan penghalang.
Ustadz Djamaludin Baria menambahkan bahwa Airmata memiliki nilai historis dan kultural tinggi. “Perayaan Maulid ini adalah identitas masyarakat muslim di Kota Kupang. Lebih dari sekadar warisan, ini adalah wujud cinta kita kepada Rasulullah SAW,” ujarnya, menegaskan makna spiritual sekaligus estetika budaya.
Masyarakat menyambut antusias acara ini. Ratusan jamaah mengikuti prosesi arak-arakan Sripuan dengan semangat. “Saya merasa bangga bisa ikut serta. Tradisi ini membuat saya lebih dekat dengan sejarah dan akar budaya kita, sekaligus memperkuat iman,” ujar Laila Harefa, salah satu warga yang hadir.
Setiap sudut Masjid Agung Al-Baitul Qadim dipenuhi warna, cahaya, dan aroma khas perayaan. Buah-buahan, kue, dan hidangan lokal tersusun rapi sebagai persembahan, menciptakan pengalaman multisensori yang memanjakan mata, hidung, dan hati.
Arak-arakan dan doa bersama menegaskan nuansa kolektif. Pemuda dan orang tua berjalan berdampingan, membentuk harmoni visual dan emosional. Tradisi ini menanamkan rasa tanggung jawab, persaudaraan, dan penghargaan terhadap nilai leluhur yang abadi.
Bagi pemerintah Kota Kupang, perayaan ini menjadi simbol sinergi antara budaya, spiritualitas, dan pembangunan. Dengan dukungan resmi, Airmata menjadi destinasi wisata tradisi yang mengedepankan nilai moral, estetika, dan pendidikan sejarah bagi generasi muda.
Ketika malam semakin larut, gema shalawat dan doa masih bergema, menandai bahwa Maulid Nabi di Airmata bukan sekadar peringatan, tetapi perayaan identitas, toleransi, dan keberlanjutan budaya. Tradisi ini berhasil memadukan spiritualitas dan estetika, menjadikan Airmata berseri sebagai pusat wisata budaya yang hidup, harmonis, dan penuh makna. (Yantho Sulabessy Gromang/Advertorial)




