Festival Budaya Maulafa sebagai Motor Kecintaan Pada Budaya Lokal

Festival Budaya Kelurahan Maulafa Tahun 2025
banner 468x60

Kupang, inihari.co- Dalam gelaran Festival Budaya Kelurahan Maulafa 2025, Pemerintah Kota Kupang di bawah kepemimpinan Wali Kota dr. Christian Widodo menegaskan komitmen serius untuk menjadikan budaya sebagai fondasi ekonomi kreatif. Meski Wali Kota berhalangan hadir, kehadiran Penjabat Sekretaris Daerah Kota, Ignasius R. Lega, dalam pembukaan acara pada 3 Oktober 2025 di jalan HTI, RT 019/RW 007, Kelurahan Maulafa, menjadi simbol dukungan penuh pemerintahan kota terhadap nilai-nilai budaya lokal dan potensi UMKM.

Tema festival, “Cinta Budaya Lokal Khususnya Budaya Timor”, mencerminkan keragaman etnis dan tradisi yang melekat pada Maulafa. Selama dua hari, panggung dipenuhi penampilan tarian Gerak dan Lagu dari TK Solideo, fashion show anak-anak SD Kanisius, Tari Kreasi SMPN 13 Kupang, drama musikal, serta alunan sasando, menyajikan harmoni antara nuansa lokal dan sentuhan modern.

Ignasius Lega menekankan bahwa kehadiran pemerintah kota bukan sekadar merayakan, tetapi memberdayakan. “Budaya adalah fondasi karakter generasi muda Kupang agar tetap berakar sekaligus siap menatap masa depan dengan percaya diri,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan visi kolaboratif pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat identitas lokal melalui ekspresi kreatif.

Partisipasi masyarakat menjadi salah satu indikator keberhasilan festival. Sekitar 300 warga hadir, termasuk tokoh agama, pemuda, dan pengurus lembaga kemasyarakatan. Mereka hadir bukan hanya sebagai penonton, tetapi aktif mengekspresikan tradisi, berkreasi, dan memamerkan produk UMKM lokal.

Pameran UMKM lokal menjadi salah satu aspek utama festival. Pengrajin kerajinan tangan, kuliner, dan produk tradisional diberikan ruang untuk menampilkan dan menjual hasil karya mereka. Inisiatif ini sejalan dengan semangat wali kota untuk mengaitkan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi mikro di tingkat akar rumput.

Lurah Maulafa, Yanto Sapay, menegaskan pentingnya festival bagi komunitas setempat. “Melalui pentas budaya dan pameran lokal, kami ingin anak-anak muda Maulafa bangga pada akar budaya mereka sekaligus melihat peluang usaha dari tradisi,” ujarnya. Testimoni ini menggambarkan harapan besar masyarakat dalam memanfaatkan festival sebagai motor ekonomi kreatif.

Festival juga menyertakan elemen edukasi. Pemerintah kota melalui instansi terkait menyelenggarakan pembacaan puisi, forum budaya, dan dialog tentang pelestarian tradisi, memperkuat pemahaman bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi dapat menjadi sumber daya masa depan.

Penyelenggaraan festival dijaga aman dan tertib. Kapolsek Maulafa, AKP Fery Nur Alamsyah, hadir untuk mengawal keamanan sekaligus memberikan arahan moral kepada warga. Ia mengimbau agar partisipasi dalam acara budaya diiringi dengan kesadaran menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan.

Respons publik terhadap festival sangat positif. Warga dan jurnalis menilai kegiatan ini lebih dari hiburan; festival menjadi wadah rekonsiliasi identitas, penguatan jiwa kewirausahaan, dan ruang kebersamaan antarwarga. Keberhasilan ini menjadi sinyal bahwa budaya dan kreativitas mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat kelurahan.

Di tangan wali kota yang visioner, warisan budaya lokal, seperti tradisi Timor di Maulafa, bukan sekadar monumen masa lalu. Melalui Festival Budaya Kelurahan Maulafa, Kupang menanam benih masa depan, di mana akar tradisi menyuburkan peluang kreatif, dan masyarakat menjadi aktor pembangunan yang berdaya saing dan berakar kuat. (Yantho Sulabessy Gromang/Advertorial)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *