Aktivis Desak Pemerintah Hidupkan Kembali Warga Peduli AIDS di Kota Kupang

Yerri Johanson Frans
banner 468x60

Kupang, inihari.co- Aktivis peduli HIV/AIDS yang juga pendamping HIV/AIDS Kelurahan Oeba, Yerri Johanson Frans, mendesak Pemerintah Kota Kupang agar segera mengaktifkan kembali Warga Peduli AIDS (WPA) di setiap kelurahan.

Menurutnya, penghentian kegiatan WPA sejak tahun 2020–2021 telah berdampak besar terhadap meningkatnya kasus HIV/AIDS di Kota Kupang.

Dalam keterangannya, Kamis (30/10/2025), Yerri Frans menjelaskan bahwa WPA memiliki peran strategis sebagai ujung tombak Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Kupang dalam melakukan pendataan, pendampingan, serta sosialisasi bahaya HIV di tingkat masyarakat.

Sebagai bentuk langkah konkret, Yerri Frans telah bertemu langsung dengan Ketua KPA Kota Kupang, James Bore, untuk menyampaikan laporan terkini sekaligus meminta agar WPA segera dihidupkan kembali di seluruh kelurahan.

Pertemuan tersebut, katanya, menjadi langkah awal membangun kembali jejaring relawan yang selama ini terbukti efektif membantu pemerintah dalam menekan laju penyebaran HIV/AIDS.

“Saya sudah sampaikan langsung kepada Bapak James Bore bahwa WPA harus segera dihidupkan lagi. Tanpa mereka, KPA kehilangan ujung tombak di lapangan. Mereka inilah yang paling dekat dengan masyarakat dan tahu persis situasi serta kebutuhan para ODHA,” jelasnya.

Yerri berharap sudah terjalin koordinasi dari Ketua KPA Kota Kupang, James Bore dengan Wali Kota Kupang untuk mempercepat proses pengaktifan kembali Warga Peduli AIDS (WPA) di seluruh kelurahan. Langkah cepat dan sinergis antara KPA dan pemerintah kota sangat dibutuhkan agar upaya pencegahan HIV/AIDS tidak semakin tertinggal.

Sejak kegiatan WPA terhenti, kata Yerry, sistem pendataan dan pelaporan kasus baru tidak berjalan optimal. Padahal, sebelumnya WPA secara rutin melakukan evaluasi setiap tiga bulan, melaporkan kasus baru, dan mengoordinasikan hasilnya dengan KPA Kota Kupang.

“Dulu kami punya database yang sangat baik. Setiap kelurahan ada dua pendamping, total lebih dari 100 orang yang aktif. Dari laporan mereka, kita bisa tahu perkembangan kasus di lapangan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, kasus HIV/AIDS di Kota Kupang meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020–2021 tercatat sekitar 900 kasus, dan hingga tahun 2025 jumlah tersebut melonjak menjadi lebih dari 2.500 kasus. Yerri menyebut kondisi ini sebagai “fenomena gunung es”, di mana kasus yang tampak kecil di permukaan sesungguhnya jauh lebih besar karena banyak yang belum terdeteksi.

“Kalau tidak bergerak dari sekarang, ini akan sangat berbahaya bagi masa depan Kota Kupang. Ada kasus anak-anak SMP yang sudah mulai terlibat prostitusi. Ini tanda darurat sosial,” ujar Yerri dengan nada prihatin.

Selain menyoroti peningkatan kasus, Yerri menekankan pentingnya pendampingan yang manusiawi dan berempati bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Pendamping, katanya, harus bekerja karena panggilan hati, bukan semata-mata karena imbalan.

“Kami bersyukur, walaupun tidak ada dana operasional sejak WPA tidak aktif, masih ada teman-teman yang terus bekerja karena panggilan hati. Pendampingan terhadap ODHA harus dilakukan dengan kasih dan komunikasi yang baik, bukan dengan menghakimi,” terangnya.

Yerri juga mengingatkan bahwa penyebaran HIV/AIDS terjadi melalui tiga jalur utama, yakni air susu ibu, cairan sperma, dan darah. Karena itu, sosialisasi bahaya HIV harus kembali digiatkan dengan melibatkan berbagai pihak mulai dari tokoh agama, lembaga pendidikan, hingga organisasi masyarakat.

Ia menuturkan bahwa sejak awal gerakan warga peduli HIV di Kupang pada tahun 2016, berbagai elemen telah bersatu dalam upaya pencegahan, termasuk BNN, tokoh lintas agama, dan Pemerintah Kota Kupang. Namun semangat kolaboratif tersebut mulai meredup dalam beberapa tahun terakhir.

“Kami dulu pernah adakan diskusi besar melibatkan lima pemuka agama dan BNN, membahas bahaya HIV dan narkoba. Wali Kota saat itu, Jonas Salean, juga hadir. Semangat seperti itu harus kita hidupkan kembali,” kenangnya.

Menutup keterangannya, Yerry Frans menegaskan bahwa Warga Peduli AIDS adalah garda terdepan dalam pencegahan. Kota Kupang butuh mereka lagi agar data bisa diperbarui, sosialisasi berjalan, dan nyawa bisa diselamatkan. (Yantho Sulabessy Gromang)

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *