Oelamasi, inihari.co- Pekerjaan peningkatan ruas Jalan Silu–Oemofa di Kabupaten Kupang terus dipacu. Proyek yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) murni dengan nilai kontrak Rp22,55 miliar ini merupakan bagian dari program Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah (IJD).
Saat ini, pekerjaan lapangan berada pada tahap pengecekan kepadatan material oleh tim laboratorium teknis. Menurut Metu Nomleni dari tim laboratorium, proses uji material menjadi syarat wajib sebelum memasuki tahapan praim dan pengaspalan hotmix pada segmen berikutnya.
Total panjang jalan yang dikerjakan mencapai 5,225 kilometer. Dari jumlah tersebut, pengaspalan hotmix telah terlaksana sepanjang 2,9 kilometer, sementara sisa ruas telah dipersiapkan dengan hamparan agregat kelas A dan dinyatakan siap untuk tahapan selanjutnya.
Proyek ini dipercayakan kepada PT Cahaya Berlian Jaya Abadi sebagai kontraktor pelaksana. Meski pekerjaan digenjot secara intensif, seluruh tahapan tetap mengikuti standar teknis, terutama terkait kualitas material dan ketebalan lapisan fondasi jalan.
Didik, Konsultan Supervisi dari PT Gagas Adi Baskara JO CV Bayu Pratama JO PT Ciriatama Nusawidya Consult, menyebut progres pekerjaan hingga awal Desember telah mencapai 62,8 persen. Menurutnya, capaian tersebut masih sesuai rencana untuk menyelesaikan proyek pada akhir Desember 2025.
Kendati demikian, pelaksanaan proyek sempat menghadapi kendala cuaca. Intensitas hujan yang meningkat dua pekan terakhir mengakibatkan sejumlah tahapan harus ditunda. Selain itu, sebagian trase jalan melintasi kawasan hutan lindung sehingga koordinasi dengan pihak Kehutanan menjadi keharusan sebelum pekerjaan dilanjutkan.
Bagi warga pedalaman Amabi Oefeto Timur, pembangunan jalan ini menghadirkan harapan baru. Selama bertahun-tahun, akses menuju Kota sangat terbatas karena kondisi jalan tanah yang rusak dan berlumpur saat musim hujan.
Jefri Albertus Foni, warga Desa Nunmafo, mengatakan bahwa ruas Silu–Oemofa merupakan akses utama menuju kota bagi sejumlah desa seperti Nunmafo, Oemolo, Muke, Enolanan, Seki, Oenaunu, dan Oemolo. Dengan adanya peningkatan jalan ini, mobilitas warga mulai jauh lebih mudah.
Ia menuturkan, sebelum proyek berjalan, warga membutuhkan waktu hingga dua jam untuk mencapai jalan utama. Kini, waktu tempuh menyusut drastis menjadi sekitar 15 menit. “Kami bersyukur sekali. Hasil kebun sekarang bisa cepat dijual dan tidak rusak di perjalanan,” ujarnya, Sabtu (06/12/2025).
Peningkatan kualitas jalan juga memperluas akses layanan dasar. Warga kini lebih mudah menjangkau fasilitas kesehatan, pendidikan, dan pasar. Distribusi bahan bangunan serta kebutuhan pokok menjadi lebih lancar, sehingga biaya logistik ke desa-desa pedalaman dapat ditekan.
Selain mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, akses jalan yang lebih baik membuka peluang pengembangan potensi pertanian dan peternakan. Perbaikan konektivitas diperkirakan akan menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru di wilayah pedalaman.
Dengan target penyelesaian pada akhir tahun, warga berharap pekerjaan dapat berjalan tanpa hambatan besar. Mereka menantikan ruas jalan yang sepenuhnya beraspal agar mobilitas dari desa menuju kota semakin aman, cepat, dan nyaman sepanjang tahun. (Yantho Sulabessy Gromang)




