Kupang, inihari.co- Di tengah dinamika pembangunan Kota Kupang, Wali Kota dr. Christian Widodo memilih jalur yang jarang ditempuh: menjadikan budaya sebagai ruang lahirnya inovasi dan kesejahteraan warga. Alih-alih memandang tradisi sebagai sesuatu yang hanya layak dirayakan pada hari tertentu, beliau menempatkannya sebagai sumber energi kota, sebuah potensi yang harus dihidupkan melalui dukungan nyata terhadap festival-festival kelurahan. Kehadiran Wali Kota di berbagai panggung budaya tingkat RT/RW menunjukkan arah kebijakan yang berani: mengubah momentum-momentum kultural menjadi pintu masuk bagi ekonomi kreatif dan peluang usaha yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Komitmen itu tampak nyata ketika Wali Kota membuka Event Budaya Kelurahan Tuak Daun Merah (TDM), sebuah gelaran yang menggabungkan pawai budaya, pertunjukan tarian tradisional, lomba-lomba komunitas, dan pameran UMKM. Kehadiran pimpinan bukan sekadar ritual, melainkan konfirmasi bahwa budaya kini menjadi bagian dari perencanaan pembangunan kota.
Festival Budaya TDM terbaru diselenggarakan di Lapangan Gereja St. Petrus, Tuak Daun Merah, dengan rentang kegiatan selama tiga hari, 25–27 September 2025. Format tiga hari ini dirancang untuk memberi ruang memadai bagi pentas seni, berbagai perlombaan, hingga interaksi pasar antara pembuat dan pembeli.
Nuansa acara menampilkan keberagaman Flobamora: tarian Bonet, Ja’i, Kebalai, serta kolaborasi kreasi tarian lokal yang melibatkan anak-anak sanggar, remaja karang taruna, dan tokoh adat. Penyusunan program tersebut menunjukkan upaya menggabungkan pelestarian tradisi dengan pendekatan kreatif yang menarik bagi audiens lintas usia.
Di jantung festival berdiri area bazar UMKM, meja-meja tenun, gerai kuliner tradisional, dan stan kriya, yang menyediakan akses pasar langsung bagi para pengrajin dan pedagang mikro. Liputan media lokal mencatat lonjakan transaksi selama hari pelaksanaan, sebuah bukti sederhana bahwa perayaan budaya dapat diterjemahkan menjadi pemasukan nyata bagi rumah tangga pelaku usaha.
Warga yang hadir memberikan tanggapan positif: rasa bangga melihat tampilan budaya, apresiasi terhadap wadah pemasaran produk lokal, serta harapan agar acara ini menjadi agenda rutin yang membantu menjaga stabilitas pendapatan UMKM. Ketika panitia dan tokoh masyarakat diwawancarai, dua kata yang paling sering muncul adalah kebersamaan dan peluang, rangkuman yang tepat atas dampak sosial dan ekonomi festival.
Pemerintah Kota memanfaatkan momentum festival untuk mengaitkan berbagai program pemberdayaan, seperti pelatihan pemasaran, fasilitasi perizinan usaha mikro, dan penguatan jejaring pemasaran digital. Dengan demikian, event budaya tidak berhenti saat tenda diturunkan, tetapi berlanjut menjadi rangkaian penguatan kapasitas pelaku kreatif. Langkah ini menjadikan festival bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Festival TDM juga menegaskan pentingnya keterlibatan lintas pemangku kepentingan: lurah, LPM, karang taruna, aparat keamanan lingkungan, hingga pihak gereja setempat bekerja sama sebagai tuan rumah. Model kolaborasi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan festival bertumpu pada partisipasi seluruh elemen masyarakat.
Bagi calon mitra dan sponsor, TDM menawarkan nilai lebih: eksposur merek di ruang komunitas yang hangat, kontribusi nyata bagi perekonomian lokal, dan kesempatan membangun narasi tanggung jawab sosial yang melekat pada pelestarian budaya. Pemerintah Kota membuka ruang kemitraan konkret, dari pendanaan stan UMKM hingga program inkubasi usaha, sebagai bagian dari visi besar menjadikan Kupang sebagai kota budaya dan kota kreatif.
Dari Tuak Daun Merah tersusun gambaran yang menjanjikan: ketika pemimpin hadir dan kebijakan menyentuh akar rumput, festival tidak lagi menjadi sekadar hiburan. Mereka berubah menjadi mesin kecil yang menumbuhkan kebanggaan, memperkuat solidaritas, dan menciptakan penghasilan. Di bawah komitmen Wali Kota Christian Widodo, langkah-langkah seperti ini menambah barisan bukti bahwa Kupang tengah merajut masa depan di mana budaya dan kreativitas menjadi fondasi kesejahteraan bersama. (Yantho Sulabessy Gromang/Advertorial)




