Sabu-Raijua, inihari.co- Di tengah terik matahari yang membakar, sebuah karya besar lahir dari tangan seorang putra terbaik Sabu-Raijua, Marten Dira Tome (MDT). Dari ide, gagasan, hingga kerja nyata, ia menjadikan panas yang dianggap bencana oleh banyak orang sebagai anugerah, yang kini berubah menjadi kristal putih bernilai tinggi: garam.
PT Nataga Rai-Hawu Industri (NRI), tambak garam yang dirintis MDT sejak ia menjabat sebagai Bupati pertama Kabupaten Sabu-Raijua pada 2013, kini telah berkembang hingga 41 hektar lahan produksi aktif. Bagi MDT, tambak garam bukan hanya proyek ekonomi, tetapi juga warisan visi untuk membuka lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan mengangkat potensi alam Sabu-Raijua agar menjadi kebanggaan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Indonesia.
Jauh sebelum pemerintah pusat menetapkan Perpres Nomor 17 Tahun 2025 tentang Swasembada Garam, MDT telah menggaungkan pentingnya menjadikan NTT sebagai sentra garam nasional. Saat itu, ia kerap menyampaikan, “Panas matahari yang membakar jangan dilihat sebagai bencana, tapi mari kita syukuri sebagai anugerah Tuhan. Tanpa panas, air laut yang biru tidak mungkin berubah menjadi kristal putih bernama garam.”
Ucapan MDT terbukti visioner. Bahkan Kepala Bappenas sempat menegaskan bahwa tidak ada pilihan lain bagi NTT selain menjadi lumbung garam Indonesia. Sabu-Raijua, di bawah kepemimpinan MDT, sudah mengawali langkah itu sejak lebih dari satu dekade lalu.
Program besar tambak garam sempat meredup pasca MDT menyelesaikan masa jabatannya. Isu miring bermunculan, hingga badai Seroja pada 2021 menyapu bersih sebagian tambak yang dibangun dengan susah payah. Namun, seperti matahari yang kembali bersinar usai hujan deras, MDT tak berhenti.
Ia kembali menata dan membangun tambak garam melalui PT Nataga Rai-Hawu Industri. Kini, lebih dari 410 orang karyawan menggantungkan hidup di tambak garam ini, tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Sabu-Raijua.
“Tambak garam ini adalah sidik jari saya,” tegas MDT. Kalimat itu mencerminkan dedikasi tanpa henti seorang pemimpin yang menjadikan karya sebagai identitas.
Meski luas tambak garam saat ini masih terbatas 41 hektar, gaung Nataga Rai-Hawu Industri sudah menembus batas daerah. Sejumlah pengusaha dari luar NTT mulai menaruh perhatian pada kualitas dan konsistensi produksinya. Andai saja program pembangunan 1.000 hektar tambak garam yang pernah dirintis MDT tak berpindah ke Rote Ndao, Sabu-Raijua kini bisa menjadi pemasok utama kebutuhan garam nasional.
Namun, MDT tak larut dalam penyesalan. Ia melihat Perpres 17/2025 sebagai momentum emas untuk melanjutkan perjuangan. Dengan penghentian impor garam secara bertahap, Indonesia membutuhkan sentra produksi dalam negeri yang tangguh. MDT meyakini Sabu-Raijua tetap bisa menjadi motor penggerak, selama ada komitmen, pengelolaan profesional, dan dukungan semua pihak.
MDT tidak segan mengingatkan bahwa program sebaik apa pun bisa berubah menjadi bencana bila tidak dikelola dengan benar. Ia menyinggung kasus korupsi garam yang kini sedang diselidiki Aparat Penegak Hukum (APH).
“Kita doakan agar APH bekerja profesional, tidak di bawah tekanan. Sebab, jika garam yang adalah anugerah Tuhan ini justru dijadikan lahan korupsi, maka yang dirugikan bukan hanya rakyat Sabu-Raijua, tetapi bangsa ini,” ujarnya.
Ketegasan MDT soal integritas sejalan dengan komitmennya dalam membangun tambak garam yang jujur, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Nama Nataga Rai-Hawu bukan sekadar brand, melainkan simbol harapan. “Nataga” berarti cahaya, “Rai-Hawu” adalah tanah leluhur. Garam Nataga Rai-Hawu Industri adalah cahaya harapan yang lahir dari tanah Sabu-Raijua, membawa manfaat bagi rakyat dan menjadi bagian dari perjuangan Indonesia menuju swasembada garam.
Kini, di bawah kepemimpinan Marten Dira Tome, tambak garam tidak hanya menjadi sumber ekonomi, tetapi juga jejak sejarah yang membuktikan bahwa visi seorang pemimpin bisa mengubah panas terik menjadi kesejahteraan.
PT Nataga Rai-Hawu Industri, Karya dan Sidik Jari Sang Maestro, Marten Dira Tome. Dari Sabu-Raijua untuk NTT. Dari NTT untuk Indonesia. (Lukas Riwu)




Discussion about this post