
Kupang, inihari.co- Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya mengaku, kondisi kearsipan di NTT kurang menggembirakan. Hal ini disebabkan masih banyak permasalahan terkait penataan, pengelolaan, dan penyelamatan arsip.
Saat meluncurkan Sistem Informasi Kearsipan Dinamis, atau SIKD berbasis Teknologi Informasi dan komunikasi, atau TIK E-Arsip di NTT (Selasa, 15/05/2018), Gubernur mengatakan NTT membutuhkan data arsip autentik untuk menjamin terselenggaranya pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kemasyarakatan secara bertanggungjawab.
“Peran arsip sangat penting dan strategis dalam menyiapkan berbagai data dan informasi secara baik. Tujuannya, agar generasi muda sekarang dan generasi yang akan datang dapat mengakses data autentik berkaitan dengan sejarah bangsa,” terangnya.
Pemerintah juga diingatkan untuk membangun komitmen bersama dalam menjaga dan merawat arsip, baik untuk negara maupun bagi daerah masing-masing, sehingga tidak lagi lagi terulang kasus kehilangan pulau Sipadan dan pulau Ligitan yang dicaplok Malaysia.
Sementara Kepala Badan Arsip Nasional Republik Indonesia mengatakan, hakekat dari sadar tertib arsip adalah efisiensi dan efektivitas pelayanan pemerintah kepada masyarakat yang tercermin melalui aparatur pemerintah.
Mustari mengingatkan agar pemerintah terus bekerja keras meningkatkan aksesibilitas informasi kepada masyarakat, sehingga informasi yang ada dapat diolah dengan baik secara akurat dan terpercaya demi kesejahteraan masyarakat.
Kepala Perpustakaan Nasional, Muhamad Syarif Bando mengatakan, tidak mungkin cita-cita untuk meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian, atau WTP dari badan Pemeriksa Keuangan RI dapat tercapai tanpa adanya pengelolaan arsip yang baik. Untuk itu, Badan Arsip menjadi penting dalam penataannya sebagai wujud tanggungjawab para penyelenggara negara. (Yantho)




