Merah Bunga Sepe, Semangat Budaya Kota Kupang

Festival Sepe 2025, dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Serena C. Francis
banner 468x60

Kupang, inihari.co- Di jantung pembangunan Kota Kupang, Wali Kota dr. Christian Widodo menegaskan bahwa kemajuan kota harus berpijak pada akar budaya dan karakter masyarakat. Bagi Wali Kota, pembangunan fisik tanpa fondasi nilai-nilai lokal hanyalah kota tanpa jiwa. Oleh sebab itu, setiap kebijakan, program, dan festival budaya diarahkan untuk memperkuat identitas lokal sekaligus membangun karakter warga.

Komitmen tersebut terlihat jelas dalam penyelenggaraan Festival Sepe 2025 di Taman Nostalgia, yang dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Serena C. Francis. Festival ini menjadi panggung kolaborasi antara pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat luas, menegaskan bahwa budaya dan ekonomi dapat berjalan beriringan.

“Festival ini bukan sekadar perayaan bunga flamboyan merah, tetapi juga perayaan nilai persaudaraan dan gotong royong yang hidup di Kota Kupang,” ujar Wali Kota Christian Widodo dalam sambutannya. Ia menekankan bahwa setiap bunga Sepe yang mekar mengingatkan warga untuk kembali pada nilai-nilai kebersamaan dan kasih yang menjadi identitas kota.

Festival Sepe, yang kini menjadi bagian dari SABOAK (Sunday Market Buat Orang Kupang), menggabungkan kegiatan budaya, kreativitas, dan ekonomi lokal. Tenun Ikat Motif Bunga Sepe yang resmi memperoleh sertifikat HKI menjadi simbol pelestarian warisan budaya sekaligus inovasi kreatif.

Masyarakat menyambut positif festival ini. Ibu Maria, seorang warga Kelurahan Liliba, berbagi pengalamannya:

“Festival ini membuat kami bangga menjadi bagian dari Kupang. Anak-anak belajar tarian dan tenun tradisional, warga saling membantu menyiapkan acara, dan kebersamaan terasa begitu hangat.”

Wali Kota Christian Widodo juga menekankan pentingnya kolaborasi publik-swasta. Dukungan PT Taspen melalui penyerahan booth UMKM SABOAK menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat mampu menumbuhkan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.

Dalam festival ini, berbagai kegiatan kreatif melibatkan anak-anak PAUD hingga mahasiswa, pelaku UMKM, komunitas, seniman, dan budayawan Kota Kupang. Lomba Tenun Motif Sepe, Fashion Show Motif Sepe, lomba mewarnai, dan expo UMKM menunjukkan bagaimana budaya dapat menjadi medium pengembangan ekonomi kreatif.

Ketua Panitia Festival Sepe 2025, Margaritha Salean, menegaskan bahwa festival ini adalah momentum untuk merayakan persatuan masyarakat melalui simbol bunga Sepe. “Rona merah kekuningan bunga Sepe hanya muncul sekali setahun, mengingatkan kita akan kampung halaman dan pentingnya menjaga warisan budaya,” ujarnya.

Lebih jauh, Wali Kota menekankan bahwa pelestarian budaya dan karakter tidak berhenti pada festival tahunan. Setiap program pembangunan kota diarahkan untuk menguatkan kearifan lokal, dari pendidikan, UMKM, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dukungan warga menjadi indikator nyata keberhasilan program ini. Banyak komunitas lokal yang aktif berpartisipasi dalam festival dan kegiatan SABOAK, membuktikan bahwa pelestarian budaya berjalan seiring dengan partisipasi publik yang tulus.

Dengan langkah-langkah strategis ini, Kupang menegaskan posisinya sebagai kota berbudaya, berkarakter, dan berkelanjutan. Visi pembangunan “Kota Kasih: Rumah Bersama yang Maju, Mandiri, Sejahtera, dan Berkelanjutan” menjadi kenyataan melalui kolaborasi semua pihak dan penghormatan terhadap nilai-nilai lokal.

Festival Sepe 2025 bukan sekadar pesta budaya, tetapi simbol nyata komitmen Wali Kota Christian Widodo untuk memastikan bahwa setiap warga Kupang dapat hidup dalam harmoni, bangga akan warisan budaya, dan memiliki ruang yang sama dalam pembangunan kota yang berkarakter. (Yantho Sulabessy Gromang/Advertorial)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *