Kupang, inihari.co– Sabtu (01/11/2025) menjadi hari padat bagi Anggota DPRD Kota Kupang, Randi Daud, S.ST., Sejak pagi, ia berkeliling ke tiga kelurahan di daerah pemilihannya, yakni Lai-Lai Besi Kopan (LLBK), Kampung Solor, dan Kuanino, untuk mendengar langsung suara warga dalam kegiatan Reses Masa Sidang I Tahun 2025/2026.
Di setiap titik kunjungan, suasana berjalan hidup. Warga tak hanya menyampaikan keluhan, tetapi juga harapan konkret agar berbagai persoalan di lingkungan mereka segera mendapat perhatian pemerintah.
Di Kelurahan LLBK, tepatnya di RT 08 RW 04, warga menyoroti persoalan dana bantuan usaha dan pelaksanaan program PEM (Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat) yang dianggap belum merata.
Ferdinand, salah satu warga, menyampaikan usulan agar pemerintah dapat membantu penyediaan gerobak usaha bagi pedagang kecil serta lampu jalan di sepanjang jalur depan Gereja Kota Kupang yang selama ini tampak gelap di malam hari.
Menanggapi hal itu, Randi Daud menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan kebijakan yang lebih berpihak kepada pelaku ekonomi mikro.
“Dana PEM semestinya menjadi pintu masuk untuk membangkitkan usaha kecil. Saya akan dorong agar mekanisme penyalurannya diperbaiki, transparan, tepat sasaran, dan tidak rumit bagi warga kecil yang berusaha jujur,” tegasnya.
Berlanjut ke Kelurahan Kampung Solor, Randi disambut warga RT 09 RW 03 yang menyoroti persoalan fasilitas umum di kawasan pasar malam. Mereka mengusulkan pembangunan MCK umum, lampu penerangan di area pasar, serta lampu jalan menuju area pekuburan yang selama ini gelap dan rawan.
Randi menyebut, kebutuhan tersebut adalah bentuk dasar pelayanan publik yang tidak boleh diabaikan.
“Penerangan dan kebersihan adalah simbol kota yang beradab. Jika warga masih mandi di tempat seadanya dan berjalan di jalanan gelap, berarti pemerintah perlu bekerja lebih cepat,” ujar Randi di hadapan puluhan warga yang hadir.
Di titik terakhir, Kelurahan Kuanino, pertemuan berlangsung di RT 19 RW 05. Ketua RT setempat, Pius Mboro, mengajukan sejumlah kebutuhan, mulai dari pembuatan setapak dan sumur resapan, hingga perbaikan drainase di depan Hotel Astiti.
Selain itu, warga RT 20 meminta pemasangan lampu jalan, serta dukungan sarana untuk kegiatan Posyandu, berupa tenda dan pengeras suara. Ada pula usulan agar pendataan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) diperbarui.
Menanggapi hal tersebut, Randi Daud menegaskan bahwa persoalan drainase dan resapan air akan ia koordinasikan dengan Dinas PUPR agar penanganannya dilakukan secara menyeluruh, bukan parsial. Begitu juga dengan lampu jalan, ia berkomitmen akan memperjuangkan kebutuhan tersebut.
Randi juga menilai aspirasi Posyandu sangat relevan. Ia menyebut, pelayanan kesehatan dasar seperti Posyandu menjadi fondasi utama pembangunan sumber daya manusia di tingkat kelurahan.
“Kita tidak bisa bicara soal generasi sehat kalau fasilitas dasar untuk ibu dan anak masih seadanya. Posyandu harus didukung, bukan hanya dengan tenaga kader, tapi juga sarana yang memadai,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti usulan warga terkait pendataan ulang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Randi berjanji akan berkoordinasi dengan instansi terkait agar proses pemutakhiran data dapat dilakukan secara menyeluruh dan transparan.
Pertemuan di Kuanino menutup rangkaian reses hari itu. Warga tampak puas karena pertemuan berlangsung hangat, tanpa jarak. Randi tidak hanya mencatat, tetapi juga memberi ruang dialog yang membangun sebuah pendekatan yang menegaskan dirinya bukan sekadar politisi, melainkan wakil rakyat yang memahami denyut persoalan di lapangan. (Yantho Sulabessy Gromang)




