{"id":7335,"date":"2026-01-22T16:15:59","date_gmt":"2026-01-22T09:15:59","guid":{"rendered":"http:\/\/inihari.co\/?p=7335"},"modified":"2026-01-22T16:15:59","modified_gmt":"2026-01-22T09:15:59","slug":"kuasa-hukum-mokrianus-imanuel-lay-minta-penerapan-kuhp-baru-dalam-perkara-dugaan-penelantaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/inihari.co\/?p=7335","title":{"rendered":"Kuasa Hukum Mokrianus Imanuel Lay Minta Penerapan KUHP Baru dalam Perkara Dugaan Penelantaran"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kupang, inihari.co-<\/strong> Penasihat Hukum Mokrianus Imanuel Lay, S.Sos, <strong>Rian Van Frits Kapitan, S.H., M.H.<\/strong>, menyampaikan tanggapan resmi terkait berkas perkara kliennya yang telah dinyatakan lengkap atau P21 oleh Kejaksaan dan siap untuk disidangkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rian Van Frits Kapitan menegaskan bahwa pihaknya menghormati seluruh proses hukum yang sedang berjalan di Kejaksaan. Menurutnya, penetapan status P21 merupakan bagian dari mekanisme penegakan hukum yang wajib dihormati oleh semua pihak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun demikian, kuasa hukum meminta agar dalam proses persidangan nanti, kliennya dikenakan ketentuan hukum pidana yang paling mutakhir sesuai dengan asas hukum pidana yang berlaku di Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTerhadap Pak Mokrianus harus diterapkan peraturan pidana yang terbaru yang mengatur tindak pidana penelantaran,\u201d ujar Rian dalam keterangannya, Kamis (22\/01\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menjelaskan bahwa pada saat dugaan tindak pidana penelantaran itu terjadi, ketentuan hukum yang berlaku adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga serta Undang-Undang Perlindungan Anak, yang memuat ancaman pidana maksimal lima tahun penjara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, lanjut Rian, sejak tanggal 2 Januari 2026, Indonesia secara resmi memberlakukan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru. Dalam KUHP baru tersebut, tindak pidana penelantaran diatur secara khusus dalam Pasal 428.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDalam Pasal 428 KUHP baru, ancaman pidananya lebih ringan, yakni pidana penjara paling lama dua tahun enam bulan atau pidana denda kategori III sebesar maksimal Rp50 juta,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Oleh karena itu, pihaknya menilai bahwa Pasal 428 KUHP harus diterapkan kepada Mokrianus Imanuel Lay dalam perkara ini, mengingat KUHP baru sudah berlaku sebelum perkara ini disidangkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rian juga merujuk secara tegas pada Pasal 3 KUHP baru yang mengatur asas penerapan hukum pidana dalam hal terjadi perubahan peraturan. Pasal tersebut menyatakan bahwa apabila terjadi perubahan peraturan pidana setelah suatu perbuatan dilakukan, maka ketentuan pidana yang terbaru yang harus diterapkan, kecuali jika ketentuan lama lebih menguntungkan bagi tersangka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKetentuan ini sudah sangat jelas dan tegas dalam KUHP baru. Oleh karena itu, kami meminta agar asas tersebut dihormati dan diterapkan secara konsisten,\u201d tegas Rian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pihak kuasa hukum menegaskan bahwa permintaan tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap proses hukum, melainkan bagian dari upaya memastikan penerapan hukum yang adil, proporsional, dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. <strong>(Yantho Sulabessy Gromang)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kupang, inihari.co- Penasihat Hukum Mokrianus Imanuel Lay, S.Sos, Rian Van Frits Kapitan, S.H., M.H., menyampaikan <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/inihari.co\/?p=7335\" title=\"Kuasa Hukum Mokrianus Imanuel Lay Minta Penerapan KUHP Baru dalam Perkara Dugaan Penelantaran\" itemprop=\"url\">Selengkapnya<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6703,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18,1],"tags":[773,774],"newstopic":[],"class_list":["post-7335","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kota-kupang","category-nttinihari","tag-mokrianus-imanuel-lay","tag-rian-van-frits-kapitan"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7335","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7335"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7335\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7336,"href":"https:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7335\/revisions\/7336"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6703"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7335"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7335"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7335"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=7335"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}