ini Hari Flashnews
Home » Hukrim » Marthen Konay: Pihak Kalah Dalam Perkara Tanah Tidak Bisa Minta Bagi Jatah Atas Tersebut

Marthen Konay: Pihak Kalah Dalam Perkara Tanah Tidak Bisa Minta Bagi Jatah Atas Tersebut

Ahli Waris dari Esau Konay didampingi Kuasa Hukum (Kiri)

Kupang, inihari.co- Persoalan tanah Konay kembali memanas. Pasalnya, pada hari Minggu, 27 Juni 2021 lalu, pihak dari Juliana Konay, Saudara Kandung dari Esau Konay, meminta agar ahli waris dari Esau Konay segera membagikan jatah tanah warisan yang ada kepada Lima Saudara dari Esau Konay yang menurut Juliana juga memiliki hak atas tanah warisan tersebut.

Dilansir dari Media Online www.nttonlinenow.com dengan judul berita: Juliana Konay Tuntut Tanah Pagar Panjang dan Danau Ina Bagi Sama Rata, Juliana Konay melalui Kuasa Hukum – Rudi Tonubesi, mengatakan bahwa pihaknya akan mengambil upaya hukum Perdata jikalau putusan Mahkamah Agung (MA) No. 1505 tanggal 17 Juni 2020 digunakan oleh ahli waris Esau Konay dalam mengklaim hak waris atas bidang tanah yang dikenal dengan nama Tanah Pagar Panjang dan Tanah Danau Ina.

Rudi yang didampingi salah satu anak dari Juliana Konay yakni Nickson Lily, juga mengatakan akan memunculkan para pihak lain yang juga merupakan turunan garis lurus dengan Konay.

“Jadi bukan hanya Juliana Konay, tetapi ada turunan lain yang sama sekali belum mendapat hak. Selama ini kan tanah ini diurus oleh kelompok Esau Konay sendiri. Sedangkan mereka Enam Bersaudara, yakni Esau Konay, Juliana Konai, Zakaria Konay, Urbanus Konay, Santji Konay dan Agustina Konay,” katanya.

Untuk itu, menurutnya, tanah Pagar Panjang dan Danau Ina masih merupakan harta bersama yang harus dibagi secara merata kepada para ahli waris dari tanah Konay.

Menanggapi hal tersebut, ahli waris dari Esau Konay, melalui Kuasa Hukum – Fransisco Bernando Bessi, pada Rabu, 30 Juni 2021, mengatakan bahwa sebenarnya persoalan tanah di Pagar Panjang seluas 250 hektare dan Danau Ina seluas 100 hektare sudah selesai. Sehingga jangan ada lagi yang datang untuk mengganggu apa yang sudah menjadi hak dari ahli waris yang ada.

Menurutnya, apa yang diinginkan oleh pihak Juliana Konay tidak bisa berikan oleh ahli waris dari Esau Konay. Sebab pihak Juliana sudah berperkara dan dinyatakan kalah oleh pengadilan. Mereka yang telah kalah (Pihak Juliana) seharusnya melakukan upaya hukum berupa kasasi atau peninjauan kembali, bukan meminta jatah pada pihak yang telah memenangi perkara secara sah di depan hukum.

“Bagaimana bisa kalah perkara lalu datang minta jatah? Kalau mereka ingin mengklaim maka sah-sah saja. Itu hak mereka. Namun bukan berarti pengklaiman mereka dapat menggugurkan putusan pengadilan. Sebaiknya mereka silahkan melalui jalur hukum yakni peninjauan kembali terhadap perkara tanah tersebut,” ungkap Fransisco Bessi.

Sementara itu, Marthen Konay, ahli waris dari Esau Konay, mengatakan bahwa perkara tanah Konay sudah memiliki keputusan tetap. Sehingga berdasarkan Ne Bis In Idem maka terhadap perkara yang sama tidak dapat diadili untuk kedua kalinya.

“Perkara tanah Konay dengan pihak Juliana Konay sudah memiliki keputusan tetap. Sekarang mereka meminta bagi warisan. Bagaimana bisa sudah kalah perkara tapi minta bagi warisan!!? Lalu putusan perkara yang ada bagaimana? Apakah tidak dipakai?,” katanya.

Untuk itu Marthen berharap agar tidak ada lagi pihak yang mengganggu hak atas tanah Konay yang ada di Kota Kupang, sebab status tanah-tanah tersebut semuanya sudah ada putusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum yang bersifat tetap.

Dirinya juga menceritakan bahwa akibat upaya penjualan tanah di atas lahan yang sudah memiliki keputusan hukum, telah mengakibatkan berbagai hal yang kini berujung sampai pada proses pra peradilan. “Saat ini kami sedang lakukan pra peradilan. Semua berawal dari Juliana Konay yang menjual jual tanah kami sebagai ahli waris hanya dengan menggunakan kuwitansi. Sedangkan tanah tersebut sudah ada keputusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum yang tetap,” ujarnya. (Yantho Sulabessy Gromang)