ini Hari Flashnews
Home » Kupang Oelamasi » Kontraktor Nakal Berulah Susahkan Petani

Kontraktor Nakal Berulah Susahkan Petani

Ketua RT 01 dan 02 beserta warga di lokasi Nefohonis (kiri), dan lokasi Sawah 16 (kanan)

Ketua RT 01 dan 02 beserta warga di lokasi Nefohonis (kiri), dan lokasi Sawah 16 (kanan)

Kupang, inihari.co- Program Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, yakni Tanam Paksa dan Paksa Tanam terancam tidak bisa dijalankan secara baik oleh para petani di Desa Bau-Bau. Hal itu diakibatkan oleh ulah kontraktor nakal yang menumpukan material tanah setinggi 2 Meter, di sepanjang jalan utama dan satu-satunya akses bagi para petani menuju area persawahan.

Ismael Saebesi, Ketua RT 01 RW 02 Desa Bau-Bau Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang mengaku kecewa dengan ulah kontraktor yang sudah menurunkan material sejak tanggal 26 Nopember 2015 lalu, tanpa adanya pekerjaan lanjutan yang dilakukan sampai hari ini (04/01).

“lokasi Nefohonis wilayah RT 01 dan lokasi Sawah 16 wilayah RT 02, masing-masing telah ditumpuk tanah berbentuk bukit-bukit kecil setinggi 2 Meter. Dan masing-masing lokasi, timbunannya mencapai panjang 400 dan 600 Meter,” kata Saebesi.

Saebesi menceritakan, pada awal penurunan material tanah, dirinya sebagai Ketua RT diundang untuk menyaksikan. Namun, jenis dari pekerjaan yang akan dilakukan tidak pernah disosialisasi, dan tanpa ada pemasangan papan proyek oleh kontraktor.

“Para petani kini sudah mengeluh karena tidak dapat beraktivitas tanam menanam. Traktor mereka tidak bisa dioperasikan ke sawah. Mereka juga takutkan jika hujan turun akan membawa material dalam bentuk lumpur ke sawah, yang pastinya merusak lahan,” ungkap Saebesi sembari mengaku bahwa kesusahan meminta pertanggungjawaban, karena para petani tidak mengetahui pihak mana yang harus dikonfirmasi mengenai persoalan material tersebut.

Ia menjelaskan, berdasarkan informasi yang dikumpulkan, penumpukan material tersebut dilakukan oleh CV. Mitra Jaya selaku kontraktor pelaksana dalam proyek pembangunan jalan usaha tani di wilayah Bau-Bau. Jalan yang akan dikerjakan sepanjang 500 Meter di lokasi Nefohonis, dan 500 Meter di lokasi Sawah 16. Namun, dari gambar perencanaan pembangunan awal jalan, Saebesi mengaku sudah terjadi perubahan, yakni lokasi Nefohonis menjadi 600 Meter dan lokasi Sawah 16 menjadi 400 Meter.

“Yang lebih mengherankan, sesuai info, kontraktor pelaksana telah menerima uang hasil kerja dari Dinas Pertanian Kabupaten Kupang sebagai pemilik proyek, karena kontraktor sudah memasukan laporan pekerjaan yang mencapai 100 Persen,” ujar Saebesi.

Saebesi juga mengatakan, lokasi Nefohonis sebenarnya dibangun hanya 550 Meter. Namun terjadi perubahan menjadi 600 Meter untuk pembangunan jalan sepanjang 50 meter sebagai akses ke sawah milik salah seorang anggota DPRD Kabupaten Kupang. Sementara di Sawah 16 yang rencana awal 450 Meter, diubah menjadi 400 Meter dengan menghilangkan salah satu jalur yang harus dikerjakan, juga untuk pengerjaan jalur tambahan sepanjang 100 Meter sebagai akses ke sawah milik anggota DPRD itu.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Ketua RT 02, Orven Tameno. Dirinya menceritakan, sempat menghubungi pihak Kelurahan untuk mencari info mengenai material yang sudah diturunkan, namun tidak mendapat kejelasan karena pihak Kelurahan sendiri juga tidak mengetahui hal tersebut.

“Saya sampai saat ini tidak mengetahui maksud dan tujuan dari diturunkannya material yang menutupi seluruh badan jalan menuju area persawahan. Siapa dan untuk apa saya tidak tahu. Saya juga kebingungan harus mengadukan masalah ini ke siapa? Jikalau ini adalah sebuah proyek, maka saya yakin ini adalah proyek siluman, sebab papan proyek sejak tahun 2015 tidak pernah terpampang, dan tidak pernah ada aktivitas kerja setelah material ini diturunkan,” katanya.

Ia juga sesalkan, penurunan material dilakukan hingga ke dalam lokasi sawah milik salah seorang warga bernama Paulus Benusu, tanpa izin.

Sementara itu, Herson Tameno, warga RT 2 yang juga sebagai tokoh masyarakat di wilayah Bau-Bau, meminta agar persoalan ini segera ditanggapi serius oleh Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, karena hal ini sudah sangat meresahkan masyarakat, terkhususnya bagi para petani di Desa Bau-Bau, jalan Amanuban.

“Bupati Ayub Titu Eki harus segera turun tangan, karena ulah kontraktor juga sudah menghambat, bahkan terkesan tidak peduli dengan program Tanam Paksa dan Paksa Tanam yang dicanangkan oleh Bupati sendiri,” pintanya.

Dirinya juga berharap, persoalan menyangkut keberadaan material ini juga bisa menjadi perhatian serius bagi DPRD Kabupaten Kupang, untuk segera diselesaikan. “Dewan harus bantu selesaikan hal ini. Karena sesuai pernyataan Ketua Dewan saat pelantikan 35 Dewan, merekalah manusia istimewa yang dipilih Tuhan untuk menjadi wakil rakyat sebelum dunia dijadikan. Sehingga, dewan perlu menunjukan keistimewaan mereka tersebut dengan membantu petani menyelesaikan persoalan ini,” tutur Tameno. (Yantho)