ini Hari Flashnews
Home » Kupang Oelamasi » Konstruksi Drainase Di Noelbaki, Asal Jadi

Konstruksi Drainase Di Noelbaki, Asal Jadi

Kontraktor bangun drainase selebar 8 Meter di depan rumah Nahor Talo Manafe

Kontraktor bangun drainase selebar 8 Meter di depan rumah Nahor Talo Manafe

Kupang, inihari.co- Proyek pengadaan konstruksi saluran air atau drainase milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikerjakan oleh PT. Bukidalam Barisani di Desa Noelbaki menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTT tahun 2015 sebesar 2 Miliar 407 Juta 4 Ribu Rupiah, belum juga terselesaikan.

Daud modok, warga Jalan Tilong Desa Noelbaki Kabupaten Kupang, mengatakan, program pengembangan sarana dan prasarana kawasan strategis berupa pengadaan konstruksi drainase di Desa Noelbaki, telah dikerjakan melampaui batas waktu yang ditentukan.

“Drainase ini dikerjakan sejak pertengahan tahun 2015. Namun sampai memasuki tahun 2016, belum terselesaikan. Konstruksi bangunannya juga buruk, yakni mengerucut dari lokasi awal selebar 3 Meter menjadi 1 Meter di bagian tengah, kemudian melebar lagi hingga mencapai 8 Meter pada bagian penghujung,”kata Modok yang ditemui di kediamannya, Minggu (03/01).

Sementara itu, Nahor Talo Manafe, pemilik lahan yang berlokasi di depan jalan Timor Raya, juga mengaku kecewa karena lahan miliknya yang digunakan dalam pembangunan drainase, tidak sesuai dengan yang telah disetujui sebelumnya.

“Kontraktor telah membangun drainase selebar 8 Meter di depan rumah saya, dengan 6 Meter lebar drainase tersebut menggunakan lahan milik saya. Sehingga, tanah saya kurang lebih sepanjang 150 Meter dengan lebar 6 Meter telah digunakan untuk membangun drainase tersebut, tanpa penjelasan yang rinci dan ganti rugi sedikit pun. Sedangkan, sesuai kesepakatan awal di Kantor Lurah, lebar tanah saya yang bisa digunakan hanya 4 Meter,” katanya.

Dirinya juga sesalkan dengan sikap dari kontraktor yang tidak pernah mau menunjukkan desain gambar dari pembangunan drainase. Sedangkan tanah dan sejumlah tanaman miliknnya telah dikorbankan tanpa imbalan sepeser pun.

“selain telah kehilangan sejumlah bidang tanah, saya juga kehilangan sejumlah pohon kelapa produktif akibat pembangunan drainase. Bahkan, saya juga terancam tidak bisa menanam, karena saat ini timbunan tanah bekas galian drainase telah menghalangi jalur air dari sawah. Sehingga bisa dipastikan, air hujan nantinya akan tertampung dan merendam hingga menutupi pematang sawah,” jelas Manafe.

Oleh karena itu Ia berjanji, tidak akan mengizinkan kontraktor pelaksana melanjutkan pekerjaan drainase menggunakan lahannya, sebelum gambar desain awal rencana pembangunan drainase ditunjukan kepadanya.

Ia juga berharap, PT. Bukidalam Barisani sebagai kontraktor pelaksana, segera ganti rugi Tiga buah pohon kelapa produktif miliknya yang telah dicabut dan disingkirkan demi kelancaran pekerjaan, dengan masing-masing pohon seharga Dua Juta Rupiah. (Yantho)