Kupang, inihari.co- Peredaran produk zat pengatur tumbuh tanaman ATONIK palsu di pasaran mendapat perhatian serius dari pihak produsen. Kuasa hukum PT OAT Mitoku Agrio, Fransisco Bessi, menyatakan perusahaan telah melaporkan kasus tersebut kepada aparat penegak hukum karena dinilai merugikan petani.
Fransisco mengatakan pihaknya sudah mengidentifikasi berbagai pihak yang diduga terlibat dalam produksi dan distribusi produk ATONIK palsu tersebut. Menurutnya, proses penelusuran telah dilakukan secara mendalam oleh perusahaan.
“Sudah teridentifikasi semua, bagaimana cara mereka membuat produk palsu itu, siapa orangnya, dan tempatnya di mana,” ujar Fransisco.
Ia menegaskan agar pihak-pihak yang masih memproduksi maupun mengedarkan ATONIK palsu segera menghentikan aktivitas tersebut. Produk palsu, kata dia, tidak hanya merugikan perusahaan tetapi juga berdampak langsung terhadap petani sebagai pengguna.
Menurut Fransisco, petani merupakan kelompok yang paling dirugikan apabila menggunakan produk yang tidak asli. Pasalnya, petani berharap memperoleh hasil panen yang maksimal dari penggunaan produk tersebut.
“Petani ini adalah penyangga dasar republik ini. Bagaimana petani yang mau mengembangkan usahanya malah ditipu dengan produk palsu,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati saat membeli produk ATONIK, terutama melalui jalur penjualan daring. Konsumen diminta memastikan produk yang dibeli berasal dari jalur distribusi resmi.
Menurutnya, langkah tersebut penting dilakukan agar petani dapat memperoleh manfaat maksimal dari penggunaan produk tersebut dalam kegiatan pertanian.
Di sisi lain, perusahaan juga terus mendorong peningkatan pemanfaatan produk ATONIK untuk mendukung produktivitas pertanian di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Direktur PT OAT Mitoku Agrio, Suryadi Jaya, menyebut produk ATONIK telah hadir di Indonesia selama hampir setengah abad. Pada tahun 2026 ini, produk tersebut genap berusia 50 tahun di Indonesia.
Sementara itu, Direktur PT Mitoku Sukses Makmur, Agustinus Tamo Mbapa, mengatakan ATONIK mulai diperkenalkan di NTT sekitar tahun 2020 melalui demonstrasi plot atau demplot pertanian.
Sejak saat itu, penggunaan ATONIK terus berkembang dan kini telah digunakan oleh petani di berbagai wilayah NTT, dengan sejumlah daerah melaporkan peningkatan produksi pertanian. (*/YSG)
