Ekspedisi Jala Citra, Untuk Pembangunan Kelautan Yang Berkelanjutan

Komandan Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Danpushidrosal) Laksamana Madya TNI Nurhidayat saat memberikan sambutan

Kupang, inihari.co- Dalam rangka memperingati Peringatan Hari Hidrografi Dunia yang jatuh pada tanggal 21 Juni setiap tahun, Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL) menyelenggarakan Ekspedisi Jala Citra 3 Flores, yakni kegiatan penelitian kolaboratif antara Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) bersama dengan Kementerian, Lembaga, Perguruan Tinggi, dan Profesional serta Industri yang bergerak di bidang survei dan pemetaan kelautan.

Ekspedisi tersebut bertujuan untuk mengungkap fitur lantai samudera serta karakteristik kolom air laut Flores guna keselamatan pelayaran, pertahanan, dan pembangunan kelautan berkelanjutan. Dengan ekspedisi, TNI AL mengidentifikasi segala hal yang ada di perairan laut Flores, termasuk potensi bencana, potensi wisata, hingga informasi terkait suhu, arah angin dan tekanan udara di laut Flores permukaan, serta mendeteksi keberadaan mamalia laut dan penyebarannya, bahkan termasuk pendataan fisik gunung berapi dasar laut.

Komandan Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Danpushidrosal) Laksamana Madya TNI Nurhidayat, dalam diskusi ilmiah dengan tema “Progress Hasil Ekspedisi Jala Citra 3 – 2023 “Flores” serta pemanfaatan bagi Masyarakat Maritim di Nusa Tenggara Timur, Guna Pembangunan Kelautan Berkelanjutan” yang digelar pada Selasa, 09 Mei 2023 di Aula Undana Kupang, mengatakan, melalui ekspedisi Jala Citra, TNI AL berharap dapat bermanfaat bagi masyarakat di Perairan Flores dan sekitarnya, khususnya bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan di wilayah kelautan untuk meningkatkan perekonomian dan pemanfaatan sumber daya alam serta sumber daya perikanan.

“Tidak ada kegiatan yang tidak memerlukan data dan informasi spasial apalagi di perairan, baik untuk pembangunan nasional, maupun pertahanan. Penyediaan dan pengelolaan data dan informasi lingkungan laut di wilayah NKRI oleh sumber daya manusia dan aset-aset nasional, merupakan bentuk kedaulatan kita atas data dan informasi di wilayah negara kita,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, posisi dan kondisi geografis Indonesia mengakibatkan banyaknya fenomena kelautan yang menarik untuk diteliti, baik oleh peneliti asing maupun nasional. Kebutuhan data oleh berbagai pihak tidak dapat dibendung atau dicegah, kemandirian bangsa diuji melalui proses pengumpulan, penyediaan, penelitian dan pemanfaatan data serta informasi kelautan, untuk tujuan pembangunan nasional yang harus selaras dengan kepentingan nasional.

Hadir dalam diskusi, Plt. Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenkomarves  Muhammad Firman Hidayat (Keynotes Speech) dan para pemapar dari peneliti yang terlibat dalam Ekspedisi Jala Citra 3 – 2023 “Flores”, yaitu Mayor Laut (P) Danar Judas P, Kadepsur KRI Spica-934 Pushidrosal,  Dr. Anindya Wirasatriya, S.T., M.Si, (Universitas Diponegoro),  Dr. Astyka Pamumpuni, (Institut Teknologi Bandung),  Ashari Wicaksono, S.Kel., M.Si., (Universitas Trunojoyo Madura), Dr. Eng. Masita Dwi M. M. M.Eng, (Universitas Indonesia) serta Dr. M. Aldila Syariz, (Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya).

Sementara para penanggap pada kegiatan diskusi merupakan para pakar kelautan, antara lain Dr. Chaterina Agusta Paulus, S.Pi., M.Si., Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Kupang,  Stefania T. Boro S.Pi, MM, Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT,  Dr. Noor Cahyo D. Aryanto, Pusat Riset Sumber Daya Geologi, BRIN.

Diskusi ilmiah “Progress Hasil Ekspedisi Jala Citra 3 – 2023 ‘Flores’ serta pemanfaatan bagi Masyarakat Maritim di Nusa Tenggara Timur, Guna Pembangunan Kelautan Berkelanjutan”

Diskusi Ilmiah tentang Progress Ekspedisi Jala Citra 3-2023 “Flores” diikuti secara daring maupun luring oleh Kementerian/Lembaga, instansi TNI, Universitas/Perguruan Tinggi, Peneliti Ekspedisi Jala Citra II – 2022 “Banda”, profesional, serta dari kalangan industri kemaritiman.

Pemapar KRI Spica-934 Mayor Laut (P) Danar Judas P dalam paparannya mengungkapkan, dalam hasil sementara ekspedisi Jala Citra 3 di perairan Laut Flores, ditemukan empat gunung bawah laut (sea mount).

Dikatakan, dari tiga etape yang dilaksanakan tim survei selama 4 April-6 Mei di Selat Pantar, Laut Flores hingga Selat Ombai, diperoleh hasil investigasi di 29 titik atau lokasi yang empat di antaranya adalah temuan gunung bawah laut. Misalnya, pada lokasi nomor 3 di arah tenggara Gunung Batutara, ditemukan gunung bawah laut ‘Abang Komba’ di kedalaman paling dangkal (least depth) 124.6 meter dengan tinggi objek gunung 2375.4 meter.

“Lokasi di kedalaman paling dangkal 185.3 meter, juga ditemukan gunung bawah laut ‘Baruna Komba’ dengan tinggi 2.416 meter,” katanya.

Di lokasi nomor 20 juga ditemukan gunung bawah laut dengan luas area akuisisi 600 km persegi. Tinggi gunung yang belum diberikan nama itu sekitar 2.418.7 meter, terletak di kedalaman paling dangkal 1481.33 meter di selatan Pulau Madu, Laut Flores.

Kemudian, lokasi nomor 27 di tenggara Pulau Lembata, terdapat hasil gunung bawah laut dengan least depth 273.36 meter dan tinggi 1726.7 meter. (Yantho Sulabessy Gromang)

Pos terkait