Yogyakarta, inihari.co – Perubahan peta politik menyusul banyaknya dukungan politik dari kubu Koalisi Merah Putih (KMP), diduga akan mempengaruhi proses pergantian menteri atau reshuffle yang akan dilakukan oleh Presiden Joko Widodo. Hal itu terlihat dari kentalnya unsur politik dibandingkan dengan evaluasi kinerja kabinet.
Hal ini dikatakan Pakar Ilmu Politik Pemerintahan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Purwo Santoso. “Saya menduga ke arah sana. Karena peta kekuatan politik telah berubah, menyusul banyaknya dukungan politik dari kubu Koalisi Merah Putih (KMP).
“PAN dan PKS mulai merapat, sehingga Jokowi perlu bermanuver untuk memperkuat pendukung,” ujar Purwo, di kampus UGM Yogyakarta, Sabtu (9/4/2016).
Ia menilai kocok ulang menteri ini merupakan konsekuensi logis atas dukungan politik yang diberikan parpol KMP yang notabene lawan utama Jokowi dkk dalam pilpres 2014 lalu. Adanya kepentingan politik dalam pemilihan menteri menurutnya wajar selama orang-orang yang dipilih berkompeten di bidangnya.
“Semuanya tidak pernah lepas dari politik. Selama orangnya kompeten dan berpikir untuk Indonesia, bukan kepentingan partai, itu normal dalam politik,” jelas dosen Jurusan Politik dan Pemerintahan, Fisipol UGM, ini.
Ia berharap menteri baru yang terpilih nanti tidak mengubah desain besar Nawa Cita dan kebijakan yang sudah dibuat menteri sebelumnya. Dan yang terpilih nanti harus lebih ke arah eksekutor design yang sudah dibentuk menteri sebelumnya. Jangan sampai ganti menteri ganti kebijakan.
Sinyal reshuffle menguat setelah Presiden Jokowi memanggil sejumlah tokoh ke Istana Negara.
Terkait dengan kabar perombakan (reshuffle) kabinet jilid II tersebut, para menteri Kabinet Kerja kompak memberikan jawaban. Mereka diminta Presiden Joko Widodo untuk tetap fokus bekerja dan mewujudkan porgram nawacita.
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Djafar, usai mengikuti sidang kabinet paripurna di Gedung Utama Sekretariat Negara, Jalan Veteran, Jakarta, Kamis (7/4/2016), mengaku tak khawatir bila posisinya tengah menjadi incaran parpol yang baru merapat ke pemerintah. “Ah enggak terganggu, kita masih kerja sedemikian rupa begini. Itu partai yang berbicara seperti itu. Saya sudah tidak aktif dalam kepengurusan,” ujar Marwan.
Hal serupa disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin. Lukman mengaku tak pernah memikirkan isu reshuffle. Baginya fokus bekerja adalah hal utama agar mendapat penilaian yang baik di mata Presiden. “Reshuffle itu sepenuhnya kewenangan presiden,” tutur Lukman.
Begitu pun Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan juga enggan mengomentari beredarnya nama-nama baru di kabinet kerja. Isu resuffle dinilai bagai lembaran Ujian Nasional yang bisa dikarang siapa saja.
Kabar perombakan (reshuffle) Kabinet Kerja jilid II kian menghangat. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan mungkin saja reshuffle terjadi dalam waktu dekat.
“Persoalan ini (reshuffle) sudah dibicarakan lama. Kita tunggu saja. Presiden bisa saja setiap saat melakukan reshuffle,” kata JK yang tengah menghadiri KTT Keamanan Nuklir di Washington, Jumat 1 April.
(Sumber: metrotvnews.com – Uwa/ YDH)
http://news.metrotvnews.com/read/2016/04/09/511004/pengamat-ugm-reshuffle-kental-aroma-politik
http://news.metrotvnews.com/politik/GNln5zGk-ketika-menteri-kabinet-kerja-tak-hiraukan-isu-reshuffle
