Gereja Yang Sudah Dibarui Harus Selalu Diperbarui

Pdt. Merry Kolimon saat serah terima jabatan sebagai Ketua MS GMIT periode 2015-2019
Pdt. Merry Kolimon saat serah terima jabatan sebagai Ketua MS GMIT periode 2015-2019

Kupang, inihari.co- Setelah sempat mengalami penundaan selama kurang lebih Empat Bulan, Ketua Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor, atau GMIT terpilih, Pendeta Merry Kolimon, pada tanggal Sepuluh Januari 2016 kemarin, bertempat di Gereja Kuanonia Kupang, secara resmi dilantik dan dinobatkan sebagai Ketua Majelis Sinode GMIT periode tahun 2015 sampai tahun 2019.

Serah terima Majelis Sinode (MS) periode 2011-2015 kepada MS periode 2015-2019 itu juga dilakukan bersamaan dengan perayaan Natal 2015 dan Tahun Baru 2016, serta Penghadapan 46 MS Ex-Officio (Ketua Majelis Klasis).

Dalam sambutannya sebagai Ketua Majelis Sinode yang baru, Pendeta Merry Kolimon mengatakan bahwa peristiwa penobatan ini merupakan peristiwa Theologis, peristiwa Eklesial, dan bukan sekedar administratif organisasi. Sehingga ketika GMIT melalui persidangan di Rote tahun 2015 lalu memilih dirinya bersama ke-Delapan lainnya sebagai Majelis Sinode, maka Satu pesan yang ditangkap bahwa GMIT menghendaki perubahan.

“GMIT memilih kami karena GMIT menginginkan perubahan. Perubahan yang diinginkan itu bukanlah suatu ide yang asing, karena pada dasarnya perubahan adalah ciri dan identitas dari gereja reformasi, yakni gereja Protestan,” kata Kolimon.

Menurutnya, Sesuai semboyan Ecclesia Reformanda Semper Reformata, atau gereja yang sudah dibarui harus selalu diperbarui, maka gereja reformasi harus terus mereformasikan atau memperbarui diri dengan membuat perubahan. Terutama dalam hal lembaga dan prakteknya, agar gereja dapat menjadi semakin baik.

Kolimon mengatakan, setelah lebih dari 68 tahun GMIT berdiri sebagai lembaga, GMIT telah belajar menata diri. Gedung Gereja GMIT telah berdiri di mana-mana. GMIT punya sistem administrasi yang tertata rapi. GMIT juga memiliki sistem pengajian pendeta yang semakin mapan.

Namun sebagai sebuah organisasi, Kolimon mengaku, GMIT masih harus terus menata tugas misionaris Kristen, untuk membawa perubahan ke arah yang semakin baik.

“Jemaat GMIT tanpa sadar maupun tidak telah bergereja di tengah masyarakat dan umat yang masih bergumul dengan kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, angka putus sekolah yang tinggi, ancaman kekeringan dan gagal panen, perdagangan orang, dan tingginya angka kematian ibu dan anak. Sehingga, telah memberikan tugas kepada GMIT untuk terus berjuang membawa perubahan, di dalam maupun luar tubuh GMIT,” tuturnya.

Ia mengatakan, GMIT harus terus mencari cara agar karya dan manajemen Eklesial mampu menyentuh dan bergumul bersama masyarakat, dalam perjuangan hidup damai sejahtera, terutama bersama mereka yang lemah dalam hidup kebersamaan. (Yantho)

Baca juga : Majelis Sinode Butuh Dukungan Positif Dan Kritis

Pos terkait