{"id":7885,"date":"2026-05-09T12:00:46","date_gmt":"2026-05-09T05:00:46","guid":{"rendered":"http:\/\/inihari.co\/?p=7885"},"modified":"2026-05-09T12:00:46","modified_gmt":"2026-05-09T05:00:46","slug":"panen-perdana-garam-sabu-raijua-marthen-dira-tome-ntt-berpeluang-jadi-penopang-kebutuhan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/inihari.co\/?p=7885","title":{"rendered":"Panen Perdana Garam Sabu Raijua, Marthen Dira Tome: NTT Berpeluang Jadi Penopang Kebutuhan Nasional"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sabu Raijua, inihari.co-<\/strong> Potensi besar Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai daerah penghasil garam kembali ditegaskan dalam panen perdana garam di tambak Lobobali, Desa Bodae, Kabupaten Sabu Raijua, Jumat (8\/5\/2026). Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Marthen Dira Tome selaku penanggung jawab PT. Nataga Raihawu Industri (NRI).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Marthen Dira Tome menyebut, kondisi geografis NTT yang beriklim semi-arid dengan musim panas yang lebih panjang menjadi keunggulan tersendiri dalam produksi garam. Menurutnya, Kabupaten Sabu Raijua telah membuktikan potensi tersebut melalui pemanfaatan teknologi geomembran di tambak garam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cGaram yang dihasilkan bersih dan putih seperti kristal, dengan kadar Natrium Klorida (NaCl) mencapai 98 persen. Faktor alam seperti panas yang konsisten, angin yang stabil, dan air laut yang tidak tercemar menjadikan Sabu Raijua sebagai salah satu daerah penghasil garam terbaik,\u201d ujar Marthen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengungkapkan, produktivitas lahan garam di wilayah tersebut tergolong tinggi. Dalam satu hektar lahan, produksi garam dapat mencapai hingga 60 ton per bulan. Capaian ini dinilai sebagai indikator kuat bahwa Sabu Raijua mampu menjadi salah satu penopang kebutuhan garam nasional, terlebih di tengah upaya pengurangan impor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIni bukan hanya soal produksi, tetapi juga upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Dengan teknologi yang tepat dan dukungan semua pihak, NTT bisa menjadi contoh swasembada garam,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Marthen juga mengingatkan seluruh pihak yang terlibat dalam rantai produksi, mulai dari petani tambak hingga tenaga angkut di pelabuhan, agar tetap menjaga kualitas garam yang dihasilkan. Ia menekankan pentingnya memandang kondisi alam sebagai potensi, bukan hambatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPanas matahari tidak boleh dilihat sebagai bencana, tetapi sebagai anugerah. Kalau Tuhan sudah memberi anugerah, maka kita tidak boleh menjual kemiskinan dengan berbagai alasan,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bupati pertama Kabupaten Sabu Raijua itu juga menilai pembangunan tambak garam akan menciptakan efek domino bagi perekonomian daerah. Aktivitas ekonomi yang tumbuh dari sektor ini diyakini akan memberikan manfaat luas, mulai dari pekerja tambak hingga pelaku usaha kecil di sekitar pelabuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cGaram bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga simbol kehidupan yang lebih baik. Tugas pemimpin adalah menemukan dan mengolah potensi daerah untuk kesejahteraan masyarakat,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Panen perdana tersebut turut mendapat dukungan dari berbagai elemen, termasuk kalangan gereja. Ketua Klasis Sabu Barat Raijua, Pendeta Femy Susanti Neno, menilai pengembangan industri garam sebagai langkah strategis dalam memanfaatkan potensi alam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Femy, kekayaan laut yang dimiliki Sabu Raijua harus dioptimalkan untuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Ia menilai sektor garam memiliki peluang besar dalam menyerap tenaga kerja lokal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau potensi ini tidak dimanfaatkan, tentu akan merugikan masyarakat sendiri, terutama dalam hal pekerjaan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Femy menambahkan, meskipun industri garam memerlukan investasi dan teknologi, terdapat sumber daya utama yang tersedia secara alami, yakni sinar matahari. Kondisi tersebut menjadi modal besar dalam pengembangan tambak garam di wilayah itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Menurutnya, pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan secara bijak agar tidak menimbulkan persoalan di masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPengembangan ekonomi harus diiringi dengan upaya menjaga dan melestarikan alam, supaya tetap memberi dampak positif bagi masyarakat,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai representasi gereja, Femy menyatakan dukungannya terhadap setiap upaya yang bertujuan mengembangkan potensi daerah, baik oleh pemerintah maupun pihak swasta, termasuk inisiatif yang dilakukan PT. NRI.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia juga menekankan pentingnya kemandirian dalam pembangunan, dengan memanfaatkan potensi lokal secara optimal. Menurutnya, keberhasilan pembangunan harus dimulai dari apa yang dimiliki daerah itu sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKita tidak bisa terus berharap bantuan dari luar. Apa yang ada pada kita harus diberdayakan dengan sungguh-sungguh, maka akan menjadi berkat bagi banyak orang,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Femy berharap, pengembangan industri garam di Sabu Raijua tidak hanya menjadi sumber ekonomi baru, tetapi juga mampu menjaga keberlanjutan lingkungan sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh masyarakat. <strong>(*)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabu Raijua, inihari.co- Potensi besar Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai daerah penghasil garam kembali ditegaskan <a class=\"read-more\" href=\"http:\/\/inihari.co\/?p=7885\" title=\"Panen Perdana Garam Sabu Raijua, Marthen Dira Tome: NTT Berpeluang Jadi Penopang Kebutuhan Nasional\" itemprop=\"url\">Selengkapnya<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6941,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,1],"tags":[545,613],"newstopic":[],"class_list":["post-7885","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekbis","category-nttinihari","tag-marthen-dira-tome","tag-tambak-garam"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7885","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7885"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7885\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7886,"href":"http:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7885\/revisions\/7886"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/6941"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7885"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7885"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7885"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"http:\/\/inihari.co\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=7885"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}