ini Hari Flashnews
Home » Hukrim » Percakapan WhatsApp Pribadi Disebar-Luaskan Tanpa Izin, Dedi Wolo Lapor Polisi

Percakapan WhatsApp Pribadi Disebar-Luaskan Tanpa Izin, Dedi Wolo Lapor Polisi

Surat Tanda Bukti Lapor Yang Dilakukan Dedi Wolo di Polres Ende

Ende, inihari.co- Merasa dipermalukan secara pribadi dan keluarga akibat percakapan WhatsApp Pribadi dengan Bupati Ende H.Djafar H Achmad disebar-luaskan secara sepihak oleh oknum yang tidak bertanggung-jawab ke media sosial dan juga dijadikan berita oleh sejumlah media online, Pemimpin redaksi (Pemred) media online Suara Nusa Bunga – Dedi Wolo akhirnya melapor ke pihak kepolisian di Polres Ende, Senin (03/08/2020).

Langkah tegas Dedi tersebut diambil setelah Penasihat Hukumnya mengirim somasi sebanyak dua kali kepada Bupati Ende H.Djafar H Achmad namun tidak mendapat jawaban.

Dedi Wolo yang datang sekitar pukul 10.00 di dampingi rekan- Rekan wartawan Ende diterima di SPKT Polres Ende untuk diambil keterangan dan menerima Surat Tanda Bukti Lapor (STBL) dengan nomor: LP/180/YAN.2.5/VIII/2020/Polda NTT/ Res Ende.

Setelah diambil keterangan di SPKT, Dedi langsung diarahkan menuju Piket Reskrim Polres Ende untuk dilakukan Berita Acara Pemeriksaan ( BAP) awal.

Usia memberikan keterangan kepada Polisi, Dedi Wolo kepada wartawan, menjelaskan bahwa secara pribadi dan keluarga, dirinya merasa dipermalukan sekali karena percakapan WhatsApp Pribadi bisa disebar ke media sosial oleh orang yang tidak bertanggung jawab, dan juga dijadikan berita oleh sejumlah media online.

“Entahlah apa motif orang tersebut sampai menyebarkan WA percakapan pribadi antara saya dengan Bupati. Dari mana dirinya mendapatkan percakapan tersebut saya tidak tahu. Untuk itu, semuanya saya serahkan sepenuhnya kepada Penyidik Polres Ende,” jelas Dedi Wolo.

Menurut Dedi, bukti percakapan asli WhatsApp nantinya akan diserahkan kepada penyidik jika diminta untuk memudahkan proses penyelidikan.

Dedi Wolo menceritakan soal kronologi percakapannya dengan Bupati Ende. Dikatakan, dirinya mengirim pesan WhatsApp ke Bupati Ende tanggal 26 Juni 2020 sekitar Pukul 11.05 Wita, tetapi yang beredar di media sosial itu “Forward” percakapan tersebut dilakukan pada pukul 11.44. Sehingga, ada perbedaan waktu.

Pada tanggal 29 Juni 2020, Dedi Wolo mengkonfirmasikan soal beredarnya pesan WA itu ke Bupati Ende. Dalam pesan ia menuliskan “Maaf Bapa kira-kira WA saya kemarin bapa teruskan ke siapa saja, soalnya ada teman dari Kupang telepon kalau WA tersebut telah beredar sampai ke Kupang”.

Kemudian pesan Dedi itu dibalas Bupati dengan jawaban “Tidak kemana- mana aji.. Keterlaluan”.

Dedi lalu menjawab “Itu sudah bapa, saya juga heran ko bisa pesan Pribadi beredar sampai ke orang lain”. Dan dijawab oleh Bupati “Maaf aji saya cek, yang namanya minta bantuan adik kaka biasa saja dan saya bertanggung”.

Namun, setelah beberapa hari berlalu, tepatnya tanggal 01 Juli 2020, Dedi melihat bahwa percakapannya dengan Bupati Ende sudah beredar di media online dan sudah dibagikan oleh beberapa orang ke grup Facebook dan sudah ramai diperbincangkan oleh banyak orang yang tergabung dalam grup Facebook tersebut.

Berita yang beredar pada umumnya menulis bahwa Dedi Wolo telah meminta uang ke Bupati Ende H.Djafar H Achmad dengan mencatut nama Gubernur NTT. Berita tersebut ditulis oleh sejumlah media, diantaranya adalah korantimor.com, suaraflobamora.com, mediaflores.com, delegasi.com dan strategi.com.

Ini adalah screenshot percakapan Dedi yang diteruskan (Forward) lalu diedarkan oleh pihak tidak bertanggung-jawab. Screenshot ini juga digunakan sejumlah media online sebagai foto/gambar berita mereka. Dalam screenshot percakapan tersebut, terlihat Dedi sempat meminta izin sebelum bertanya apakah Bupati Ende dapat membantu atau tidak.

Sementara itu, dilansir dari pemberitaan di media online www.penatimor.com tertanggal 04 Juli 2020, sebelumnya, salah satu pengacara Kota Kupang, Fransisco Bernando Bessi, SH,MH,CLA, menyesalkan tulisan di sejumlah media online itu, karena dia menilai tulisan itu hanya akal-akalan untuk menyudutkan orang lain.

“Berita itu tidak masuk akal. Judulnya lain, isinya lain. Wartawan tidak boleh begitu. Ini berita akal-akalan, dan jangan menyudutkan orang lain,” katanya.

Menurut dia, WA antara masyarakat dan pimpinan daerah (Bupati) adalah hal yang biasa. Menjadi tidak biasa, jika pembicaraan itu di screenshot lalu dibuatkan menjadi berita.

“Harus dicari siapa yang membuat hal tersebut. Karena pastinya bupati dan keluarga tidak nyaman atas pemberian itu,” ujarnya.

Dia juga mempertanyakan pencatutan nama gubernur yang ditulis dalam berita tersebut.

“Dari screenshot WA sama sekali tidak membawa nama gubernur. Kecuali ada WA yang bawa nama gubernur lalu ancam-ancam,” tandasnya. (*/Yantho/PT)