ini Hari Flashnews
Home » NTT Ini Hari » Ray Fernandes Ajak Warga TTU Mengelola Alam Untuk Kehidupan

Ray Fernandes Ajak Warga TTU Mengelola Alam Untuk Kehidupan

Raymundus Sau Fernandes (baju kaos oblong putih), Bupati yang merakyat dan gemar bertani

Kefamenanu, inihari.co- Bupati Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Raymundus Sau Fernandes, mengajak warganya untuk memanfaatkan alam sebagai sarana dalam menghidupi diri dan keluarga. Sebab menurutnya, melalui pertanian yang kotor dan sedikit melelahkan, seseorang bisa menghasilkan keuntungan dan uang yang lebih banyak dari para pegawai negeri sipil di daerahnya.

Ia mengatakan, dengan bertani, orang dapat mengantongi keuntungan minimal sebesar lima kali lipat dari modal yang dikeluarkan. Dan keuntungan tersebut dapat terus berjalan, sebab komoditi yang ada saat ini sudah tidak hanya terpaku di musim hujan, namun juga bisa dikembangkan di musim panas.

Terkait keakrabannya dengan dunia pertanian, Bupati dua periode yang terkenal dengan gaya hidup sederhana ini memang sudah mengenal dunia pertanian sejak kecil oleh kedua orang tuanya, yakni Yakobus Manue Fernandes dan Margaretha Hati Manhitu yang adalah seorang petani. Hal itu juga yang telah membentuk kepribadiannya untuk selalu bekerja keras, rendah diri dan paham cara mengelola alam untuk kehidupan.

Ray saat ini telah menjadi sosok pemimpin yang wajib dipanut karena selalu berupaya membangun hubungan yang baik dengan masyarakat di dalam keseharian sebagai Bupati. Di dalam setiap kesempatan, Ray selalu menonjolkan cara berkomunikasi yang baik dengan masyarakat, serta menunjukkan sikap positif dan konsisten terhadap semua yang telah dikatakan, termasuk pada seluruh program yang telah ia canangkan.

Di masa kepemimpinannya yang kedua sebagai Bupati TTU, Ray semakin bersemangat mewujudkan tekadnya untuk menyejahterakan seluruh rakyat TTU. Ia kini terus mendorong dan memberi contoh kepada masyarakat tentang bagaimana meningkatkan perekonomian rumah tangga dengan tidak menaruh harapan sebagai PNS semata, tetapi harus lebih mulai mengkreatifkan diri melalui pengelolaan tanah yang baik dengan bertani.

“Kita harus akui bahwa kerja keras tidak akan mengingkari hasil. Kerja baik, sudah pasti hasil baik. Banyak orang yang tidak tertarik menjadi petani, sehingga banyak lahan ‘tidur’ di TTU. Padahal bila dimanfaatkan sudah pasti menghasilkan uang bagi kehidupan,” ungkapnya pada Sabtu, 14 Maret 2020.

Dijelaskan, masyarakat TTU selama ini terkesan cepat puas dengan hasil yang sedikit. Semua sudah habis dipanen baru dikerjakan kembali. Tidak ada kesinambungan, sedangkan hal tersebut seharusnya dijaga agar dapat terus berjalan.

Ia mencontohkan, dalam menanam Pepaya bermutu, tidak boleh ditanam dalam satu waktu sekaligus, namun harus secara bergiliran. Harus ditanam sebagian, baru kemudian dilanjutkan sebagian. Tujuannya agar ketersediaannya tetap ada dan kebutuhan pasar dapat terus dipenuhi.

Selain itu, pola menanam masyarakat TTU juga menurutnya harus diubah. Tidak boleh lagi menggunakan gaya tanam sedikit-sedikit, yakni satu lahan banyak tanaman. Sebab, dengan cara tersebut maka hasil panen untuk setiap jenis tanaman juga hanya sedikit dan tidak bisa dipasarkan.

Untuk mendukung sektor pertanian di TTU, jelas Ray, Pemerintah telah menyiapkan kurang lebih 40 unit traktor yang dapat digunakan petani secara gratis. Petani yang menggunakan traktor hanya perlu menyiapkan bahan bakar traktor sesuai dengan kebutuhan pemakaian.

Saat ini, dalam rangka menarik minat masyarakat untuk bertani, Bupati Ray tengah mengelola sedikitnya tiga lahan pertanian miliknya yang ada di pinggiran Kota Kefamenanu, Ibu Kota Kabupaten TTU. Dalam pengolahan lahan tersebut, dirinya selalu melibatkan kelompok-kelompok tani agar bisa belajar cara mengefektifkan lahan darinya, serta dibantu oleh penyuluh pertanian di daerah.

“Saya sementara sedang mengelola tiga lahan. Lahan satu luasnya 50 hektar. Karena lahannya luas maka di situ saya tanam sejumlah tanaman yang berkomoditas. Ada Jagung dan Porang,” katanya.

Kebun Porang, Hasil Pertanian Bupati Ray di Salah Satu Bagian pada Lahan Seluas 50 Hektar

Khusus untuk Porang, dikatakan, telah ditanam ribuan anakan, dan akan terus ditanam hingga ratusan ribu pohon. Anakan Porang tersebut didapat dari hasil beli dari masyarakat.

“Porang itu menjanjikan kalau dikelola dengan baik. Porang Satu kilo biasanya dijual seharga 25 ribu rupiah per kilogram jika basah, dan 80 ribu rupiah per kilogram jika sudah diiris tipis dan dikeringkan. Anakan porang biasanya saya beli dengan harga 150 rupiah hingga 300 rupiah dari masyarakat. Masyarakat pada umumnya mengambil anakan Porang dari hutan, sebab banyak sekali anakan tersebut di berbagai tempat di TTU,” terangnya.

Lebih lanjut Ray mengatakan, dilahan 50 hektar itu, dirinya juga akan membuat Agrowisata, sehingga masyarakat bisa mendapatkan tempat wisata baru sambil menikmati panorama dan hasil pertanian.

Kebun Kacang Hijau, Hasil Pertanian Bupati Ray di Lahan Seluas 7 Hektar

Kebun Kacang Tanah dan Pepaya, Hasil Pertanian Bupati Ray di Lahan Seluas 8 Hektar

Sementara pada dua lahan lainnya, Ray mengaku, dirinya akan mengfokuskan pada satu jenis tanaman untuk masing-masing lahan.

“Untuk di lahan yang kedua seluas 7 hektar lebih, itu saya fokuskan pada tanaman kacang hijau. Kacang hijau itu sekali tanam bisa dipanen hingga 5 sampai 6 kali dengan hasil yang berlimpah, sebab didukung dengan pupuk organik yang saya buatkan sendiri. Sementara untuk lahan ketiga seluas 8 hektar lebih, itu saya fokuskan pada Kacang Tanah yang disisipi Pepaya bermutu bagus untuk disuplay ke Labuan Bajo Manggarai barat sesuai permintaan Gubernur,” ungkapnya. (Yantho)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*