ini Hari Flashnews
Home » Kesehatan » RS Siloam Kupang Hadirkan Alat Penyembuh Batu Ginjal Tanpa Operasi

RS Siloam Kupang Hadirkan Alat Penyembuh Batu Ginjal Tanpa Operasi

Dokter Spesialis Urologi di Rumah Sakit Siloam Kupang, dr. Eric Sibastian Hutauruk saat memberi penjelasan

Dokter Spesialis Urologi di Rumah Sakit Siloam Kupang, dr. Eric Sibastian Hutauruk saat memberi penjelasan

Kupang, inihari.co- Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal bagi seluruh warga Nusa Tenggara Timur (NTT), selain dengan menambah dan menghadirkan tenaga kesehatan yang ahli dan kompeten, Rumah Sakit Siloam Kupang terus melengkapi fasilitasnya dengan alat-alat modern yang berguna dalam memudahkan proses penyembuhan penyakit sesuai peruntukan dari masing-masing alat tersebut.

Saat ini Rumah Sakit Siloam Kupang kembali menghadirkan alat modern lainnya berupa Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) yang berguna untuk menangani Batu ginjal tanpa pembedahan.

Direktur Rumah Sakit Siloam Kupang, dr. Hans Lie mengatakan, setelah di bulan Desember 2018 lalu pihaknya menghadirkan Cath Lab Kateterisasi Jantung untuk membantu penyembuhan pasien berpenyakit jantung, kini pihaknya kembali menghadirkan alat modern berupa ESWL yang menggunakan metode gelombang kejut dari luar tubuh untuk menghancurkan Batu Ginjal.

“Dengan adanya ESWL ini, pasien yang ingin mengeluarkan Batu Ginjal tanpa operasi atau pembedahan tidak perlu lagi rujuk ke Jakarta atau daerah-daerah lain. Pasien sudah bisa menghemat waktu serta biaya rujukan ke luar NTT, sebab alat tersebut sudah ada di Rumah Sakit Siloam Kupang,” terang Hans Lie dalam acara Media Gathering yang digelar di Rumah Sakit Siloam Kupang pada Kamis, 05 Desember 2019.

Sementara Dokter spesialis urologi di Rumah Sakit Siloam Kupang, dr. Eric Sibastian Hutauruk mengaku dengan adanya ESWL maka pelayanan bagi pasien Batu Ginjal akan semakin baik.

“Kita ketahui bersama bahwa Kota Kupang dan NTT pada umumnya adalah daerah dengan komposisi tanah yang berkapur dan memiliki cuaca panas yang panjang hingga sembilan bulan. Hal itu menyebabkan hampir semua masyarakat NTT beresiko menderita penyakit Batu Ginjal, sebab cuaca panas akan terus memaksa untuk mengkonsumsi air, dan dengan sendirinya mayoritas masyarakat NTT mengkonsumsi air tanah yang banyak mengandung kapur tersebut,” katanya.

Menurutnya, kadar air berkapur yang direkomendasikan adalah 75 miligram (mg) per liter. Namun air tanah yang ada di NTT semuanya diatas kadar tersebut, bahkan ada yang berkadar lebih dari 200mg/liter. Untuk itu masyarakat NTT dianjurkan agar lebih baik beralih untuk mengkonsumsi air kemasan.

Berdasarkan data, setiap tahun Rumah Sakit Siloam Kupang melakukan operasi Batu Ginjal paling sedikitnya terhadap 650 pasien. Setiap harinya rumah sakit tersebut melayani sedikitnya 30 orang pasien penderita Batu Ginjal.

“Batu Ginjal di Indonesia itu tertinggi ada di NTT, NTB dan Kalimantan, sebab profil daerahnya sama yakni panas dan kadar kapurnya tinggi,” katanya.

Ia menjelaskan, biasanya penyakit Batu ginjal ditandai dengan nyeri di bagian pinggang dan urine yang berwarna keruh.

Terkait penanganan menggunakan ESWL, Eric menjelaskan, metode yang digunakan alat tersebut adalah gelombang kejut. Pemecahan batu dilakukan dari luar tubuh, sehingga pasien tidak perlu menjalani operasi.

“Batu yang sudah hancur akan keluar secara alami bersamaan dengan urine. Kelebihan dari tindakan ini adalah pasien tidak akan mengalami luka, tidak harus dirawat di rumah sakit dan biayanya juga lebih murah karena bisa ditanggung BPJS,” ucapnya.

Ia menambahkan, setelah pasien menjalani prosedur ESWL, masih diharuskan kontrol ke dokter spesialis urologi untuk memastikan batu tersebut sudah hancur dan hilang. (Yantho)