Festival Budaya Penkase-Oeleta Gerakkan UMKM dan Perkuat Peran Pemuda di Alak

Kupang, inihari.co- Festival Budaya Penkase-Oeleta di Kecamatan Alak, Kota Kupang, tidak sekadar menjadi panggung pelestarian seni tradisional, tetapi juga terbukti menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Selama tiga hari pelaksanaan, 29 April hingga 1 Mei 2026, pelaku UMKM mencatat lonjakan penjualan yang signifikan.

Ketua panitia, Immanuel Apsoni Ratu Dali, menjelaskan festival yang didukung anggaran Rp20 juta dari pemerintah kota ini dirancang untuk mengintegrasikan budaya dengan pemberdayaan ekonomi warga. Sebanyak 10 RW dan 38 RT terlibat aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan.

“Setiap RW membuka satu stan, sementara RT mengirimkan produk UMKM untuk dipasarkan. Ini menjadi ruang kolektif bagi warga untuk menunjukkan potensi ekonomi mereka,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).

Selain pameran UMKM, festival juga diisi berbagai kegiatan budaya dan edukatif, seperti lomba kebersihan antar-RW, karaoke lagu daerah, pertunjukan tarian tradisional, hingga karnaval budaya yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Dampak ekonomi dari kegiatan ini terlihat nyata. Berdasarkan uji petik panitia terhadap salah satu pedagang salome, terjadi peningkatan penjualan dari rata-rata 500 menjadi 1.000 unit per hari selama festival berlangsung.

“Artinya ada kenaikan hingga 100 persen. Ini bukti konkret bahwa festival budaya bisa menjadi instrumen penggerak ekonomi lokal,” kata Immanuel.

Ia menilai ke depan diperlukan sistem pencatatan yang lebih terstruktur agar dampak ekonomi festival dapat diukur secara akurat dan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan.

Sementara itu, tokoh pemuda Penkase-Oeleta, Sergio Surdianto Kofi, menilai festival ini juga membawa dampak sosial yang positif, khususnya bagi generasi muda. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi alternatif produktif yang mampu mengalihkan pemuda dari aktivitas kurang bermanfaat.

“Antusiasme pemuda sangat tinggi. Mereka terlibat langsung dalam kegiatan seni dan budaya, sehingga aktivitas nongkrong tanpa tujuan mulai berkurang,” ujarnya.

Ia menegaskan festival ini murni berfokus pada seni dan budaya, sekaligus menjadi ruang ekspresi kreatif bagi generasi muda di wilayah tersebut. Sergio berharap pemerintah dapat menjadikan kegiatan ini sebagai agenda rutin, terutama pada momentum Hari Kemerdekaan maupun peringatan hari jadi Kota Kupang.

Hal senada disampaikan Camat Alak, Amramsius Yolah, yang menilai festival ini sebagai contoh kolaborasi efektif antara pemerintah, masyarakat, dan pemuda dalam membangun lingkungan yang produktif dan harmonis.

Selain memperkuat pelestarian budaya lokal, kegiatan ini juga dinilai mampu mempererat persatuan di tengah masyarakat multietnis di Kecamatan Alak.

Jika dukungan anggaran terus berlanjut, Festival Budaya Penkase-Oeleta bahkan berpeluang digelar dua kali dalam setahun. Dengan capaian tersebut, festival ini dipandang sebagai model pengembangan berbasis komunitas yang tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan. (Yantho Sulabessy Gromang)

Pos terkait