Kupang, inihari.co- Sebuah harapan lembut dilukis kembali di bawah langit biru Taman Nostalgia: komitmen pemerintah kota pada perempuan prasejahtera bukan sekadar janji, tetapi tindakan nyata. Saat Wakil Wali Kota Kupang meluncurkan Program Ina Kasih, ia mengundang kerinduan bersama, agar setiap perempuan yang dibebani menstruasi merasa dihargai, diperhatikan, dan diperlakukan dengan kasih sebagai bagian dari rumah besar Kota Kupang. Kasih sayang itu menyatu dengan visi kota: membangun kota maju, sejahtera, mandiri, dan berkelanjutan.
Ketika panggung acara di Taman Nostalgia diterangi lampu lembut, sorot mata para penerima manfaat bersinar penuh haru. Kehadiran tokoh pemerintahan, tokoh agama, dan masyarakat adalah bukti bahwa isu kesehatan reproduksi perempuan sudah menjadi prioritas kota. Program Ina Kasih bukan sekadar bantuan barang, tetapi simbol perhatian pemerintah terhadap martabat kaum perempuan dalam keheningan dan realitas kehidupan sehari-hari.
Manfaat pertama dari program ini adalah pengurangan beban ekonomi pada perempuan prasejahtera. Dengan rata-rata harga pembalut sekitar Rp 26.000 per pak, seperti yang disampaikan, banyak keluarga berpenghasilan rendah kesulitan menyediakan kebutuhan penting ini. Wakil Wali Kota menegaskan bahwa beban biaya menstruasi bisa menjadi 6,5–13% dari penghasilan keluarga sangat miskin, dan program Ina Kasih hadir untuk meringankan beban tersebut.
Manfaat kedua adalah pembukaan ruang dialog dan edukasi kesehatan reproduksi. Sebab stigma menstruasi masih nyata: banyak perempuan yang malu membicarakan masalah ini dan kesulitan mengakses informasi. Melalui Ina Kasih, pemerintah bukan hanya membagikan pembalut, tetapi juga mendidik masyarakat agar menstruasi dipandang wajar dan bukan beban tabu, membuka jalan agar perempuan tidak lagi merasa terpinggirkan oleh ketidaktahuan atau rasa malu.
Masyarakat yang hadir pada peluncuran program menyambut dengan antusias dan harapan. Para perempuan dari berbagai latar, termasuk komunitas disabilitas, merasakan bahwa pemerintah memperhatikan kebutuhan paling dasar sekaligus paling sering diabaikan. Suara-suara ini adalah gema harapan bahwa kasih sayang kota hadir dalam bentuk kebijakan nyata, bukan sekadar retorika.
Salah satu penerima manfaat, Nora Paulina Lau, yang aktif dalam komunitas disabilitas, mengungkapkan sentimen itu dengan tulus: “Terima kasih banyak untuk Ibu Wakil Wali Kota dan Pemkot Kupang. Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Ini bukan hanya bantuan fisik, tetapi rasa peduli yang memperkuat martabat kaum perempuan.” Kata-katanya menggambarkan bahwa program ini memberi dampak emosional yang dalam.
Secara visual, momen pembagian pembalut terasa sangat intim dan elegan. Tangan lembut para perempuan menerima paket dengan senyum ringan, dikelilingi pepohonan hijau di taman; seolah kota menyalakan lilin harapan bagi mereka yang selama ini berjuang diam. Nuansa itu memperlihatkan bahwa kebijakan sosial juga bisa menjadi karya estetika kemanusiaan.
Wakil Wali Kota Serena Cosgrova Francis menyampaikan bahwa nama Ina Kasih dipilih dengan sangat hati-hati: “Ina” berarti perempuan dalam bahasa lokal, sedangkan “Kasih” mencerminkan identitas kota sebagai “Kota Kasih”. Ini bukan sekadar nama; ia adalah manifesto: kasih kota kepada perempuan, kepedulian pemerintah terhadap bagian paling rentan dari masyarakat.
Tak lupa, Serena menekankan bahwa program ini bersifat jangka panjang dan kolaboratif. Pemerintah membuka ruang kerja sama dengan LSM, organisasi perempuan, komunitas kesehatan reproduksi, dan sektor CSR. Melalui kemitraan ini, Ina Kasih akan terus tumbuh menjadi intervensi sosial yang berkelanjutan, bukan bantuan sekali jalan.
Dalam pernyataannya, ia pun menegaskan bahwa akses pembalut gratis adalah wujud nyata dari prinsip “pemerintah adalah melayani”. “Dengan Ina Kasih, kami menjaga martabat perempuan sekaligus martabat kemanusiaan,” ujarnya, suaranya lembut namun tegas, meninggalkan kesan bahwa kehadiran kota adalah perlindungan penuh rasa.
Para tamu yang hadir merasakan bahwa aksi ini lebih dari program sosial, ini adalah panggilan moral. Tokoh agama, pengusaha lokal, dan pemimpin komunitas menyambut peluncuran Ina Kasih sebagai momentum untuk mengintegrasikan nilai-nilai kasih, kesetaraan, dan tanggung jawab sosial ke dalam struktur pemerintahan sehari-hari.
Inspirasi dari program ini pun menular. Beberapa perempuan muda di Kupang menyatakan bahwa mereka kini merasa lebih “diakui” sebagai individu yang memiliki kebutuhan konkret. Mereka berharap Ina Kasih bisa memperluas cakupan ke lebih banyak kelurahan dan menjangkau perempuan remaja yang sering kali absen dari sekolah ketika mengalami menstruasi.
Ketika acara berakhir dan lampu taman meredup perlahan, harapan tetap menyala dalam hati para perempuan yang hadir: bahwa Kupang adalah kota yang peduli, yang tidak membiarkan warganya kesepian dalam perjuangan paling personal sekalipun. Program Ina Kasih menjadi simbol kasih kota yang lembut, inklusif, dan nyata.
Dengan Ina Kasih, Kota Kupang menunjukkan wajahnya yang paling manusiawi: kota yang tidak hanya membangun gedung, tapi juga merawat jiwa warganya. Ini adalah langkah elegan dan penuh kasih dalam membangun rumah bersama yang lebih adil dan berkelanjutan bagi semua perempuan. (Yantho Sulabessy Gromang/Advertorial)
