Kupang Kreatif: Harmoni Wirausaha yang Menyala

Wakil Wali Kota Kupang Buka Temu Koordinasi Penguatan Kewirausahaan di GMIT Center

Kupang, inihari.co- Sinar matahari pagi menembus jendela kaca GMIT Center, menari di lantai kayu sambil menyapa wajah-wajah penuh semangat para pelaku usaha. Aroma kopi dan dokumen berlapis warna-warni berpadu, membentuk atmosfer yang hangat, penuh energi, dan sarat harapan. Di sini, komitmen Wakil Wali Kota Kupang terasa nyata, menegaskan bahwa pembangunan ekonomi lokal lahir dari kepedulian, kolaborasi, dan kesempatan yang dibuka untuk semua.

Wakil Wali Kota Serena C. Francis membuka Temu Koordinasi Penguatan Kewirausahaan dengan salam hangat, menyalakan antusiasme peserta. Kehadirannya bukan sekadar formalitas, melainkan simbol bahwa pemerintah hadir untuk memfasilitasi pertumbuhan UMKM dan ekonomi kreatif, serta mendukung setiap langkah wirausahawan lokal.

“Program Perintis Berdaya, khususnya Berdaya Bersama, membuka jalan bagi wirausahawan untuk berkembang lebih cepat,” ujarnya. Kata-kata ini terasa seperti sentuhan lembut, membangkitkan semangat peserta untuk memaksimalkan potensi usaha mereka melalui pelatihan dan pendampingan yang kolaboratif dan berkelanjutan.

Deputi Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Leontinus Alpha Edison, menekankan bahwa pengentasan kemiskinan kini bukan hanya melalui bantuan sosial, melainkan lewat penguatan UMKM, koperasi, dan ekonomi kreatif. Pendampingan yang terstruktur dan jejaring yang luas menjadi kunci agar sektor ini mampu berdaya dan bersaing di era digital.

Manfaat nyata dari kegiatan ini langsung terasa oleh para peserta. Mereka mendapatkan wawasan terbaru mengenai tren ekonomi kreatif, peluang kerja lepas, dan strategi pemasaran, sekaligus menjalin jejaring dengan pemerintah dan pelaku usaha lain. Setiap sesi dialog menjadi inspirasi yang bisa diterapkan dalam usaha sehari-hari.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota menyinggung dinamika ekonomi global dan fenomena pekerja lepas yang diminati generasi muda. Meski membawa peluang, hal ini juga menuntut kesiapan dalam menghadapi pendapatan tidak menentu dan minimnya perlindungan regulasi, sehingga pendampingan dan pelatihan menjadi sangat penting.

Pemerintah Kota Kupang juga menghadirkan program inovatif seperti Saboak (Sunday Market Buat Orang Kupang), yang melibatkan ratusan UMKM setiap akhir pekan dengan perputaran ekonomi mencapai ratusan juta rupiah. Inisiatif ini bukan hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan dan terhubung dengan masyarakat luas.

Event budaya di tiap kelurahan turut dimanfaatkan sebagai ruang kolaborasi kreatif. “Event ini bukan sekadar hiburan, tetapi panggung untuk pelaku usaha, komunitas, dan warga menciptakan atraksi unik sesuai karakter masing-masing komunitas,” kata Wakil Wali Kota, menekankan nilai edukatif sekaligus ekonomi dari setiap kegiatan.

Sinode GMIT juga berperan strategis melalui inisiatif GG Mart, bekerja sama dengan Bank Indonesia. GG Mart menjadi simbol kemandirian ekonomi jemaat sekaligus wadah pemasaran produk lokal, membuktikan bahwa kolaborasi institusi keagamaan dan pemerintah bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Tanggapan masyarakat dan peserta terasa hangat. Ibu Rina, pelaku UMKM lokal, mengatakan, “Kegiatan ini memberi saya inspirasi dan peluang baru. Rasanya seperti ada angin segar yang mendorong usaha saya untuk lebih maju.” Testimoni ini menegaskan bahwa program bukan sekadar formalitas, tetapi berdampak nyata pada kehidupan wirausahawan.

Kegiatan temu koordinasi ini juga menegaskan prinsip “memerintah adalah melayani.” Setiap kebijakan dan program diarahkan untuk membuka peluang, memberi ruang, dan menumbuhkan semangat kewirausahaan sehingga masyarakat bisa tumbuh dan berdaya bersama.

Ketika rangkaian acara berakhir, GMIT Center tetap terasa hidup. Suara diskusi, tawa hangat, dan ide-ide yang tercatat menjadi bukti bahwa Kota Kupang menenun harmoni kreatif, di mana kolaborasi dan inovasi berpadu, menjadikan setiap warga bagian dari perjalanan menuju kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (Yantho Sulabessy Gromang/Advertorial)

Pos terkait