Cahaya Kasih di Hari Spesial: Ultah yang Menebar Kebahagiaan

Wali Kota Kupang Rayakan Ultah Secara Sederhana

Kupang, inihari.co- Matahari pagi menembus jendela panti asuhan, menyinari lantai berdebu yang dipenuhi tawa dan langkah kecil anak-anak. Aroma sabun, kertas warna-warni, dan senyum tulus berpadu, menciptakan suasana hangat yang menenangkan. Hari itu bukan sekadar ulang tahun, melainkan panggung di mana kasih dan perhatian menari dengan indah di antara generasi muda Kota Kupang.

Wali Kota Kupang memilih cara sederhana namun sarat makna untuk merayakan hari lahirnya yang ke-39. Tanpa pesta atau gemerlap hiasan, ia hadir membawa pesan yang lebih abadi: kebahagiaan sejati lahir dari berbagi dan kepedulian nyata terhadap sesama.

Bersama jajaran Sekda, Ketua TP PKK, para Asisten Sekda, dan Kepala Bagian Kesra, Wali Kota menyalurkan bantuan berupa paket sembako, beras, telur, mie instan, sabun cuci, dan kebutuhan dasar lain kepada tiga panti asuhan yang mewakili keberagaman iman di Kota Kupang. Setiap paket bukan sekadar barang, melainkan simbol perhatian dan kasih yang merayap lembut ke setiap sudut hati anak-anak.

“Ya, jadi saya memutuskan untuk tidak buat acara. Kami tidak buat pesta atau makan-makan. Kami ke panti asuhan saja. Hari ini kita merayakan ulang tahun saya di tiga panti asuhan,” ungkapnya, menekankan esensi hari itu sebagai momentum berbagi, bukan merayakan diri sendiri.

Setiap senyum anak yang menyambut rombongan adalah hadiah tersendiri. Suara tawa mereka yang polos dan mata yang berbinar memberi nuansa hidup, seolah aula panti menjadi panggung sinematik di mana kasih menjadi aktor utama.

Wali Kota menambahkan, tindakan berbagi ini adalah wujud syukur sekaligus komitmen menghadirkan dampak positif bagi masyarakat. “Saya ingin supaya hari yang berbahagia ini, kita bisa buat orang lain juga ikut berbahagia. Kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa buat orang lain juga sukses atau bahagia,” ujarnya dengan nada hangat dan menenangkan.

Tidak hanya paket sembako, tetapi kata-kata dan perhatian yang tulus disampaikan kepada anak-anak. Ia mengajak mereka menanamkan semangat solidaritas: saling membantu, gotong royong, dan tetap optimis meski dunia terkadang penuh keterbatasan dan ketidakpastian.

Wali Kota mengibaratkan kasih sebagai cahaya lilin. “Kalau saya punya lilin menyala, lalu saya nyalakan lilin-lilin yang lain, itu tidak mengurangi api saya. Sama halnya dengan kasih. Kalau kita bagikan, dia tidak mengurangi kasih dalam diri kita, malah bisa menambah kasih,” tuturnya, metafora yang sensual dan visual, memikat indera dan hati sekaligus.

Respons anak-anak panti pun hangat dan menggemaskan. Mereka menyanyikan lagu sederhana, tertawa bersama, dan sesekali saling melempar tatapan penasaran yang menegaskan bahwa kebahagiaan itu menular.

Ibu Nila, seorang pengurus panti, memberikan testimoni singkat namun mendalam: “Kehadiran Pak Wali membuat anak-anak merasa istimewa. Mereka belajar bahwa kebahagiaan bukan soal hadiah besar, tetapi kasih dan perhatian yang tulus.”

Masyarakat yang mengikuti kabar ini memberikan tanggapan positif. Banyak yang mengapresiasi cara sederhana namun berdampak ini, menegaskan bahwa kepedulian dan teladan nyata lebih bermakna daripada kemeriahan semu.

Ketika kunjungan selesai dan rombongan meninggalkan panti, cahaya senja menyelimuti halaman. Suara tawa anak-anak masih menggema, meninggalkan kesan abadi: di Kota Kupang, kasih dan perhatian bisa menyala, menular, dan menebar kebahagiaan, menjadi cahaya yang tak pernah padam di setiap hati. (Yantho Sulabessy Gromang/Advertorial)

Pos terkait