Kupang, inihari.co- Di aula yang diterangi cahaya hangat, aroma kayu dan kain tradisional berpadu dengan desiran kipas angin perlahan, menciptakan suasana yang intim dan penuh rasa hormat. Setiap kursi, setiap tatapan, memantulkan tekad Kota Kupang untuk merawat kerukunan antarumat beragama dengan kesungguhan yang tak terbantahkan. Malam itu bukan sekadar seremoni, tapi panggung elegan bagi komitmen yang nyata.
Kehadiran Wali Kota dr. Christian Widodo di tengah jajaran pengurus FKUB menegaskan bahwa kepedulian terhadap kerukunan bukan sekadar kata, tapi praktik yang memerlukan integritas dan kehadiran. Sorot matanya yang hangat menyapa pengurus lama dan baru, menegaskan pesan: keberlanjutan ide dan pengalaman adalah jantung dari harmoni.
“Saya yakin ini bukan perpisahan, melainkan kelanjutan perjalanan. Ide pengurus lama akan terus menyatu dalam setiap langkah pengurus baru,” ujarnya, menekankan bahwa setiap kontribusi tetap berharga, menambah nuansa hangat yang membalut seluruh acara.
Para pengurus baru disambut dengan tepuk tangan hangat, setiap senyum dan salam menjadi simbol komitmen mereka terhadap profesionalisme dan semangat kebersamaan. FKUB, seperti digambarkan, adalah jembatan yang menyeberangkan nilai toleransi dan kemanusiaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Keberagaman yang mewarnai Kota Kupang bukan penghalang, melainkan kekuatan. Indeks Kota Toleran yang menempatkan Kupang di 10 besar di Indonesia menjadi bukti nyata bahwa persatuan lahir dari pemahaman dan penghargaan terhadap perbedaan.
“Bersama, kita bukan setetes air, tetapi samudera luas,” kata Wali Kota, metafora yang sensual dan visual, mengajak setiap warga merasakan kekuatan kolektif yang lahir dari kebersamaan dan gotong royong.
Tanggapan masyarakat yang hadir turut menegaskan keberhasilan momen ini. Ibu Lestari, seorang warga, tersenyum sambil berkata, “Acara ini membuat saya merasakan hangatnya persaudaraan. Kupang terasa lebih dekat, lebih manusiawi, dan damai.” Kata-katanya menambah kedalaman emosional, membungkus setiap momen dengan rasa nyata.
FKUB juga diberi amanah strategis, membantu pemerintah dalam sosialisasi pembatasan jam pesta malam hari. Peran ini tidak hanya administratif, tetapi juga simbol harmonisasi kehidupan sosial, menjaga ketenangan, dan mencegah konflik yang dapat merusak keharmonisan kota.
Suasana semakin hidup ketika pengurus baru berdialog dengan pengurus lama, menukarkan gagasan dan pengalaman. Setiap percakapan, setiap senyum yang tertangkap kamera, membentuk visual yang menegaskan bahwa kerukunan bukan statis, tetapi dinamis dan selalu dirawat.
Ketua FKUB, Pdt. Mercy Paula Pattikawa, mengajak semua anggota untuk berlayar bersama menghadapi gelombang masalah sosial. Setiap keputusan, setiap langkah, dipenuhi kesadaran bahwa peran mereka adalah menjaga Kota Kupang tetap menjadi rumah besar yang hangat bagi semua warga.
Respons masyarakat juga terlihat dari antusiasme peserta. Sorak-sorai yang lembut, tatapan hangat, dan tangan yang saling berjabat menciptakan pengalaman multisensori, di mana suara, cahaya, dan kehangatan emosional berpadu menjadi satu kesatuan elegan.
Ketika acara berakhir dan cahaya perlahan meredup, yang tersisa adalah rasa damai yang meresap ke dalam setiap hati. Kupang menegaskan posisinya sebagai kota yang menenun kasih dan harmoni secara eksklusif, elegan, dan sensual, sebuah rumah besar di mana toleransi bukan sekadar slogan, tetapi pengalaman hidup yang bisa dirasakan setiap warga. (Yantho Sulabessy Gromang/Advertorial)
