Kupang Mewarnai Identitas Bangsa: Wali Kota Kupang Terima Penghargaan “Cita Daerah Damai dan Inklusif”

Wali Kota Kupang Terima Penghargaan “Cita Daerah Damai dan Inklusif”

Kupang, inihari.co- Di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota modern, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menegaskan bahwa akar budaya dan karakter bangsa harus tetap menjadi fondasi. Kupang bukan sekadar kota administratif; di bawah kepemimpinannya, kota ini dijadikan laboratorium hidup bagi pelestarian nilai-nilai budaya yang berkelanjutan dan membentuk karakter masyarakatnya.

Sejak awal masa jabatannya, Wali Kota Christian Widodo menegaskan bahwa setiap kebijakan pembangunan harus berpihak pada identitas lokal. Budaya bukan hanya warisan sejarah, melainkan juga panduan moral dan sosial yang membentuk perilaku warga. Dari upaya revitalisasi seni tradisional hingga penguatan nilai gotong royong di masyarakat, semua digerakkan dengan semangat partisipasi publik.

Momentum prestisius datang ketika Kota Kupang dianugerahi penghargaan “Cita Daerah Damai dan Inklusif” oleh Kompas TV pada ajang Anugerah Cita Negeri 2025. Penghargaan ini menegaskan bahwa Kupang bukan hanya berbudaya, tetapi juga mampu menjadi kota yang harmonis, toleran, dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Acara penganugerahan yang berlangsung di Studio I Kompas TV Jakarta, Senin (10/11), disaksikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri RI, Muhammad Tito Karnavian. Wali Kota Kupang menerima penghargaan ini dengan rasa syukur mendalam, menandai pengakuan nasional atas komitmen kota dalam menjaga kerukunan dan keberagaman.

“Penghargaan ini bukan sekadar simbol,” ujar Wali Kota Christian Widodo, “melainkan dorongan bagi kami untuk terus menanamkan semangat toleransi, memperkuat kerukunan, dan memastikan setiap warga mendapat ruang yang sama dalam pembangunan kota. Kupang adalah rumah bagi semua.”

Festival budaya yang rutin digelar di kota ini, mulai dari Festival Sepe hingga Liliba, menjadi bukti nyata komitmen Wali Kota. Warga antusias mengikuti setiap acara, melihatnya sebagai sarana untuk merayakan warisan budaya sekaligus mempererat kebersamaan sosial.

Ibu Maria, salah seorang warga Kelurahan Liliba, mengungkapkan kekagumannya:

“Festival ini membuat saya merasa bangga menjadi bagian dari Kupang. Anak-anak belajar tarian tradisional, kita semua ikut gotong royong menyiapkan acara, dan rasa kebersamaan terasa begitu hangat.”

Kehadiran tokoh-tokoh nasional dan internasional dalam acara budaya menunjukkan bahwa Kupang juga mampu menjadi kota yang terbuka bagi dialog dan kolaborasi, tanpa meninggalkan identitas lokalnya. Seni, musik, dan kerajinan tangan menjadi medium yang menghubungkan masyarakat lintas generasi dan komunitas.

Direktur Utama Kompas TV, Rosianna Silalahi, menekankan bahwa penghargaan ini bukan hanya pengakuan formal, tetapi juga apresiasi atas kepemimpinan dengan hati. Piala yang diserahkan dibuat dari bahan daur ulang, menegaskan filosofi pembangunan yang berpihak pada manusia dan alam.

Komitmen Wali Kota Kupang juga terlihat dari dukungan terhadap UMKM lokal dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Tenun tradisional, kuliner khas, dan pertunjukan seni lokal menjadi bagian dari strategi pembangunan yang berkarakter, tidak hanya mengutamakan pertumbuhan fisik tetapi juga kualitas sosial dan moral warga.

Dalam setiap sambutannya, Wali Kota Christian Widodo selalu menekankan bahwa budaya dan karakter bukanlah aksesori pembangunan, tetapi pondasi yang akan memastikan Kupang tetap menjadi kota yang ramah, toleran, dan inklusif di masa depan.

Dengan penghargaan ini, Kupang tidak hanya menorehkan prestasi, tetapi juga memberikan teladan bagi kota-kota lain di Indonesia. Komitmen untuk menjaga budaya dan karakter masyarakat tetap hidup menjadi inspirasi nyata bahwa pembangunan kota modern dapat selaras dengan pelestarian nilai-nilai luhur dan semangat kebersamaan. (Yantho Sulabessy Gromang/Advertorial)

Pos terkait