Nunbaun Sabu Berkisah: Ketika Festival Kelurahan Menjadi Nadi Kreativitas dan Ekonomi Kupang

Festival Budaya Kelurahan Nunbaun Sabu (NBS) Tahun 2025

Kupang, inihari.co- Di tengah hiruk-pikuk pembangunan fisik, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo memilih jalur yang berbeda: memberi ruang bagi budaya untuk menjadi mesin penggerak kesejahteraan. Komitmen ini tampak bukan dari dokumen kebijakan semata, melainkan dari langkah nyata mendukung festival kelurahan sebagai titik temu seni, agama, dan pasar lokal, sehingga budaya tidak hanya dipertunjukkan, tetapi juga memberi penghidupan.

Festival Budaya Kelurahan Nunbaun Sabu (NBS) yang berlangsung pada 24–25 Juli 2025 di Lapak UMKM Pantai NBS (jogging track) menjadi contoh gamblang dari visi tersebut. Panggung terbuka menampilkan tarian etnis, parade busana tradisional, pembacaan puisi, hingga pertunjukan musik tradisional yang terjalin dengan aktivitas pasar produk lokal. Kehadiran Wali Kota pada pembukaan menegaskan bahwa festival ini merupakan bagian dari strategi pembangunan budaya dan ekonomi kreatif Kota Kupang.

Di setiap sudut lapak UMKM, tenun, kriya, dan kuliner khas dipamerkan bukan sebagai pajangan, tetapi sebagai produk yang siap dibeli. Panitia menata stan dengan rapi agar pelaku usaha mikro mendapat akses langsung kepada pengunjung, momen yang bagi banyak pelaku kecil berarti pesanan baru dan jejaring pemasaran yang semakin luas. Liputan media mencatat lonjakan transaksi selama festival berlangsung.

“Kalau orang berkumpul, jualan bisa laku. UMKM bisa hidup,” ujar Wali Kota Christian Widodo saat membuka acara. Ia juga mengusulkan agar frekuensi Festival NBS ditingkatkan demi menguatkan identitas kelurahan yang multietnis dan berpotensi menjadi contoh bagi kelurahan lain di Kota Kupang. Pernyataan tersebut merangkum filosofi pemerintah kota: ruang publik yang hidup adalah ekonomi yang bergerak.

Festival NBS juga menjadi ruang temu lintas generasi. Siswa, sanggar seni, tokoh adat, dan pemuda karang taruna tampil bergantian. Ketua panitia, Mulyanto Djami, menegaskan bahwa acara ini tidak hanya ditujukan sebagai tontonan, tetapi sebagai pendidikan budaya dan penguatan ekonomi lokal, dengan harapan dapat terus berlanjut dan memberi dampak jangka panjang bagi kesejahteraan warga.

Respon warga yang hadir pun hangat dan optimistis. Banyak pengunjung mengaku bangga melihat budaya daerah tampil di ruang publik dan senang dapat membeli produk lokal langsung dari para pembuatnya. Beberapa pelaku usaha melaporkan adanya peningkatan pesanan setelah festival, indikator kecil namun nyata bahwa budaya yang dikelola dengan baik mampu menjadi sumber penghasilan.

Penyelenggaraan Festival NBS juga memuat dimensi sosial: gerakan kerja bakti, pengelolaan sampah mandiri, serta pembangunan lapak UMKM secara swadaya turut menjadi bagian dari narasi acara. Hal ini menjadikan festival bukan hanya ajang perayaan, tetapi juga wahana membangun ketahanan sosial-ekonomi di tingkat kelurahan. Festival budaya menyatu dengan program pembangunan lingkungan setempat.

Dalam perspektif kebijakan, Pemkot Kupang memandang festival kelurahan sebagai pintu masuk strategis bagi pendampingan UMKM melalui pelatihan pemasaran, fasilitasi perizinan, hingga akses jejaring pemasaran digital agar produk lokal tetap bertahan setelah tenda diturunkan. Dengan demikian, festival tidak berhenti pada keramaian sesaat, tetapi menjadi bagian dari ekosistem kreatif yang berkelanjutan.

Bagi mitra dan sponsor, Festival NBS menawarkan nilai lebih dari sekadar eksposur. Terdapat peluang nyata untuk berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi lokal sekaligus menjaga kelestarian budaya. Pemerintah kelurahan membuka ruang kolaborasi melalui dukungan stan UMKM, pelatihan, hingga bantuan logistik sebagai investasi sosial yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

“Saya ikut jualan di sini. Setelah festival, banyak yang pesan lagi. Ini bukan cuma panggung, tapi kehidupan,” kata Mulyanto Djami, merangkum pengalaman para pelaku lokal lainnya. Di bawah komitmen Wali Kota Christian Widodo, langkah-langkah kecil seperti NBS disiapkan menjadi gelombang perubahan: dari kelurahan ke kota, dari panggung ke pasar, dari budaya ke ekonomi, yang bersama-sama menghimpun kesejahteraan warga Kupang. (Yantho Sulabessy Gromang/Advertorial)

Pos terkait